POLIGAMI

Bismillah.

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Dengan tulisan ini saya ingin untuk ikut sedikit berdiskusi & berbagi info sebatas pengetahuan saya tentang permasalahan poligami, yg tentunya sangat terbatas ini, pada sohib2x sesama muslim maupun yg non muslim. Tulisan ini saya buat pada saat perdebatan tentang poligami sedang hangat2xnya di televisi beberapa waktu yg lalu.

Poligami adalah sistem pernikahan dimana seseorang memiliki pasangan menikah lebih dari satu orang. Poligami sesungguhnya bisa dilakukan baik oleh pria ataupun wanita. Yang dilakukan oleh pria dinamakan Polijini, sedangkan yg dilakukan oleh wanita disebut Poliandri. Tetapi karena poliandri sangat sedikit sekali dilakukan orang, maka kebanyakan pemahaman orang tentang poligami adalah pria yg beristri lebih dari satu. Maka dalam pembahasan ini secara umum bila menyebut poligami maka yg dimaksud adalah polijini.

Poligami dalam Islam

Banyak orang berpendapat bahwa melakukan poligami adalah sesuatu hal yg dianjurkan dalam agama Islam, bahkan ada juga yg menganggapnya suatu yg wajib & mempunyai nilai religius lebih besar dibandingkan yg melakukan monogami. Apakah benar demikian?

Dalam Al-Qur’an surat : An-Nisaa’ ayat 3 & An-Nisaa’ ayat 129 disebutkan (terjemahannya) :

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam surat An-Nisaa’ ayat 3 diatas disebutkan seorang pria muslim bisa menikahi 2, 3, atau 4 wanita. Tetapi kemudian disebutkan juga bahwa bila seorang pria muslim kuatir tidak dapat berlaku adil, maka hendaknya ia hanya menikahi satu orang wanita saja.

Point penting terdapat pada bunyi ayat lainnya di surat yg sama (ayat 129), dimana disebutkan bahwa seorang pria (dg segala keterbatasan manusiawinya) tidaklah mungkin dapat berbuat adil (maksudnya benar2x 100 persen adil).

Maka sesungguhnya makna dari ayat tersebut insyaallah sbb :

Karena sesuai dg fitrah manusia yg tidak mungkin dapat sepenuhnya berbuat adil, maka pilihan terbaik bagi kebanyakan pria secara umum adalah menikah dg hanya satu wanita saja (monogami). Sekalipun demikian, menikahi lebih dari satu wanita tetap diperbolehkan bila terpenuhi kondisi & syarat2x tertentu. Dan syarat2x yg ditetapkan Islam tidaklah mudah. Sedangkan untuk kata “adil” yg dipakai di ayat tsb saja menurut seorang ulama, dalam bahasa aslinya mempunyai setidaknya 4 arti yg berbeda.

Karena itu, poligami sebenarnya bukanlah sebuah hukum keharusan, melainkan sebuah pengecualian. Dalam Islam ada 5 kategori hukum :

  1. Fardu –> artinya kewajiban
  2. Mustahab –> artinya disunnahkan atau dianjurkan
  3. Mubah –> artinya diperbolehkan
  4. Makruh –> artinya tidak dianjurkan
  5. Haram –> artinya dilarang

Poligami dalam hal ini mestinya berada pada hukum yg paling tengah, yaitu : Mubah atau diperbolehkan. Jadi tidak berarti bahwa beristri lebih dari satu adalah lebih baik daripada beristri hanya satu saja.

Mengapa Islam membolehkan praktek poligami (polijini) ?

Beberapa alasan Islam membolehkan Poligami :

1. Islam & Al-Qur’an adalah suatu tuntunan yg diturunkan Tuhan untuk seluruh umat manusia dan untuk sepanjang jaman. Itu artinya bahwa ajaran Al-Qur’an harus dapat diterapkan pada siapa saja, di mana saja, dan pada waktu kapan saja. Jadi hukum2x didalamnya harus dapat diterapkan pada berbagai lingkungan sosial & masa yg berbeda, misalnya pada umat jaman nabi Muhammad yg masih lazim menikah dg banyak istri, maupun umat pada jaman sekarang yg sudah banyak berpaham monogami.

2. Sekalipun umumnya sekarang kebanyakan orang (termasuk orang Islam) sudah berpaham monogami, poligami tetap dibolehkan dalam Islam sebagai sebuah “jalan keluar” untuk suatu alasan & kepentingan tertentu yg tidak bertentangan dg ajaran agama, misalnya :

– Seorang pria yg menginginkan anak, sedangkan istrinya mandul

– Seorang pria yg mempunyai istri yg sakit2xan & tidak mampu melayani suaminya dg baik secara semestinya

– Kebutuhan seksual pria yg secara umum lebih besar dari wanita, termasuk tidak adanya masa menopause bagi pria seperti umum terjadi pada wanita pada usia sekitar 40 – 50 th.

– Berlebihnya jumlah wanita di suatu daerah dibanding jumlah pria-nya (dibahas lebih detail pada point nomor 4)

– Dan masih ada beberapa alasan lagi yg mungkin membutuhkan adanya pernikahan poligami

3. Sesuai dg surat An-Nisaa’ : 3 tadi, bahwa poligami yg dibolehkan dalam Islam adalah “poligami terbatas”, yaitu tidak boleh lebih dari 4 istri. Sedangkan pada jaman sebelum turunnya ayat tsb seorang pria lazim bisa berpoligami secara tidak terbatas, bahkan bisa puluhan atau bahkan bisa mencapai seratus orang istri. Di sini terlihat aturan poligami dalam Islam juga berfungsi untuk mengatur dan membatasi seorang pria untuk tidak berpoligami secara tidak terbatas yg bisa melebihi kemampuannya sebagai suami, ayah, dan kepala rumah tangga.

4. Secara rata2x, jumlah wanita di dunia lebih banyak daripada pria. Hanya di beberapa daerah tertentu di dunia ini yg tercatat memiliki jumlah populasi pria lebih banyak dari wanitanya, seperti di beberapa daerah di China & India. Tetapi itupun terjadi secara tidak normal, maksudnya di daerah2x tsb mempunyai kondisi sosial dimana orang menganggap jauh lebih berharga mempunyai anak laki2x daripada anak perempuan, yg mengakibatkan banyaknya terjadi pembunuhan bayi/janin saat orang tuanya mengetahui kelaminnya adalah wanita. Data populasi penduduk di berbagai belahan dunia secara umum juga selalu menunjukkan kelebihan jumlah wanita dibanding pria. Misalnya : di Amerika Serikat jumlah wanita kelebihan 7,8 juta jiwa. Kota New York saja kelebihan populasi wanita 1 juta orang, sementara 1/3 dari penduduk prianya adalah kaum gay (yg tidak akan menikahi wanita). Secara keseluruhan Amerika saja memiliki jumlah pria gay lebih dari 25 juta orang! Dan bila di Amerika seluruh pria “normal” sudah memiliki satu istri, maka masih akan ada sekitar 30 juta wanita yg tidak mendapatkan suami. Inggris juga kelebihan 4 juta populasi wanita, Jerman 5 juta wanita, dan di Rusia kelebihan 9 juta. Itu masih diluar jumlah para pria gay yg tidak akan menikahi wanita. Hal ini bisa menimbulkan masalah yg serius dimana ada sekian banyak jumlah wanita yg tidak akan mendapatkan suami bila semua pria hanya menikah dg satu wanita saja. Dan Islam mempunyai solusi untuk permasalahan ini.

5. Dan masih ada beberapa alasan lainnya yg relevan dg ajaran Islam yg membolehkan poligami terbatas, seperti kenyataan populasi di dunia yg cenderung mendukung kondisi jumlah wanita menjadi lebih banyak dari pria, seperti :

  • Banyaknya perang di berbagai daerah yg berkecenderungan memakan banyak korban pria daripada wanita (pernah ada demonstrasi para wanita di beberapa daerah di Eropa setelah PD II karena hukum yg tidak membolehkan poligami, sedangkan banyak sekali terdapat janda2x akibat perang yg sangat menghancurkan itu),
  • Anak lelaki yg meninggal lebih banyak dari anak wanita,
  • Banyaknya kegiatan yg umum dilakukan pria lebih beresiko kematian daripada wanita, seperti pada kemiliteran, pekerjaan kasar, beberapa cabang olahraga, dll.
  • Serta masih ada beberapa alasan lagi yg secara logis & ilmiah dapat mendukung dibolehkannya praktik poligami.

Poligami dalam berbagai agama

Banyak orang berpendapat bahwa hanya agama Islam-lah yg membolehkan umatnya untuk melakukan poligami, sedangkan dalam agama2x lain tidak boleh. Hal ini membuat ada orang yg menganggap Islam tidak menghargai hak2x wanita secara setara dg pria (terutama para aliran feminis), termasuk juga dimanfaatkan oleh golongan2x tertentu untuk mendiskreditkan Islam sbg agama yg tidak menghargai wanita (Saya dapat menjelaskan banyak hal secara luas tentang topik penghargaan pada wanita dalam pandangan Islam & agama2x lain untuk meluruskan pandangan tsb, tapi itu pembahasan lain, di sini kita hanya akan membahas tentang poligami).

Benarkah pendapat demikian? Benarkah poligami hanya ada di agama Islam? Ada beberapa hal yg bisa kita perhatikan di sini :

Al-Qur’an adalah “satu-satunya” kitab suci dalam agama2x di dunia yg terdapat penyataan tegas –> “menikahlah dengan satu orang wanita saja” (An-Nisaa’ : 3). Tidak satupun kitab suci dalam agama2x lain di dunia yg memerintahkan seorang laki2x untuk hanya menikah dg satu orang wanita saja. Juga di sana tidak ada batasan dalam melakukan poligami seperti disebutkan di ayat tadi. Di dalam kitab2x seperti Weda, Ramayana, Mahabarata, Talmud, dan juga Injil, kita tidak akan menemukan batasan kepemilikan istri. Contoh lebih detailnya sbb :

  • Banyak agamawan Hindu yg mempunyai banyak istri menurut kitab suci mereka, misalnya : raja Dashrat ayahanda Sri Rama punya 4 istri (Vishnusutra Ch. 24 V. 1), Krisna juga demikian dengan memiliki 16100 istri ! (Mahabarata Anushasana Parva Sec. 15). Baru pada tahun 1956 di India dikeluarkan undang2x Hindu Marriage Act yg melarang memiliki istri lebih dari satu. Jadi bukan kitab suci Hindu yg melarang pernikahan poligami, tapi para pemimpin umatnya. Juga dalam data pemerintah India, terdapat data poligami dari seluruh penduduk India, bahwa dalam kurun waktu 10 tahun dari tahun 1961 – 1971 orang muslim yg berpoligami sebanyak 4.31% dari jumlah komunitasnya, sedangkan orang Hindu yg poligami adalah sebanyak 5.06% dari jumlah komunitasnya. Ternyata dalam kondisi undang2x yg seperti itu, persentase umat Hindu yg berpoligami dalam komunitasnya adalah lebih banyak dari persentase umat Islam yg berpoligami dalam komunitasnya.
  • Dalam kitab Talmud (kitab suci Yahudi) secara khusus membolehkan orang awam beristri empat, sementara raja2x diperbolehkan beristri hingga 18 orang. Kenyataannya Yahudi tidak menghapuskan hak seorang laki2x untuk memiliki sejumlah istri secara bersamaan hingga hukum terkenal dari Rabbi Gershom bin Yehudah (960-1030) yg mengeluarkan dekrit yg melarang praktek poligami. Tapi setelah itupun masih terdapat kelompok2x Yahudi yg masih terus berpoligami, seperti komunitas Sephardic yg hidup di beberapa negara Islam terus mempraktekkan poligami sampai akhir tahun 1950-an hingga dikeluarkannya Act of the Chief Rabbinate of Israel yg melarang seorang laki2x Yahudi beristri lebih dari satu. Sedang di dalam kitab Perjanjian Lama Kristen yg terdapat cerita sejarah & kehidupan umat Yahudi, banyak sekali terdapat kisah pria2x yg beristri lebih dari satu, termasuk para raja, nabi, & orang2x suci lainnya, tanpa ada satu-pun ayat yg mencela perbuatan mereka, termasuk dari Yesus Kristus & nabi2x lainnya. Bahkan poligami di sana dilukiskan sangat ekstrim dg adanya pria2x yg beristri puluhan sampai ratusan orang (mis : raja Salomo – dlm Islam nabi Sulaiman – punya 700 istri & 300 gundik. Baca : 1 Raja-raja 11 : 1-3, dan masih banyak lagi contoh lain).
  • Dalam gereja2x Kristen awal, poligami terus dipraktekkan selama beberapa abad setelah kepemimpinan Yesus Kristus, dan bahkan didukung oleh beberapa tokoh yg dikenal sbg Bapa-bapa Rasuli (Apostolic Fathers). Seperti yg tercermin dalam tulisan2x Agustinus, uskup Hippo dan seorang Santo yg ditasbihkan oleh gereja Katolik Roma : “Guna menyediakan keturunan2x yg jumlahnya memadai, praktik seorang laki2x memiliki beberapa istri pada waktu yang sama tidak boleh dijadikan keberatan…” (Perintah Kristen)

… kami membaca bahwa banyak perempuan meladeni satu suami, ketika keadaan sosial bangsa tersebut membolehkannya, dan tujuan masa itu mengharuskannya demikian, karena tidak ada yg bertentangan dengan sifat2x pernikahan.” (Pernikahan De Bono).

Selain itu juga ada beberapa contoh pendukung lain dari data sejarah :

  • Th 726, Paus Gregory II telah mengirimkan misionaris ke suku2x Jerman yg salah satu ajarannya adalah membolehkan seorang suami untuk mengambil istri lagi jika istrinya yg pertama lemah dalam hubungan seksual & si suami tidak mendapat kepuasan dengannya.
  • Karlemagne (742-815), Kaisar Romawi Suci, memiliki 2 istri & banyak gundik, dan menetapkan hukum yg melegalkan poligami, bahkan bagi para pendeta.
  • Reformasi Protestan juga mencerminkan poligami yg didukung gereja ke dalam kekristenan, misalnya : aturan Anabaptis di Munster Jerman th 1531-1534 dimana poligami malah diharuskan jika ingin jadi orang Kristen sejati. Kedua, Dakwah Bernardino Ochino pada abad 16 di Polandia. Ketiga, Martin Luther-pun menyatakan bahwa ia tidak dapat menemukan larangan Alkitab terhadap poligami, dan menyetujui pernikahan poligami Philip dari Hesse dan menyarankan Raja Henry VIII untuk mengambil istri kedua daripada menceraikan istri pertamanya. Rekan Martin Luther, Philip Melanchton (1497-1560) juga mendukung poligami raja Henry VIII
  • Baru pada tanggal 11 Nopember 1563, pada Konsili Trento, Gereja Katolik Roma melarang poligami tanpa kecuali.
  • Pada 1650, menyusul perang Tiga Puluh Tahun, pemerintah Kristen di Nuremburg (Jerman) meloloskan sebuah hukum yg membolehkan seorang laki2x memiliki 2 orang istri.
  • Pada abad ke 17 di Amerika, poligami dipraktekkan oleh kelompok kristen Joseph Smith, dan masih terus dipraktekkan hingga saat ini oleh beberapa sempalan kelompok tsb.
  • Bahkan pada hari ini, setidaknya ada 2 cabang Kristen di Afrika mengakui poligami, termasuk Legiun Gereja Maria dan Gereja Otonom Ortodoks Afrika di Selatan Sahara.

Poliandri

Lantas kalau Poligami (polijini) dibolehkan dalan Islam, kenapa poliandri tidak diperbolehkan?

Dilarangnya poliandri dalam agama Islam berlandaskan pada surat An-Nisaa’ ayat 22-23, yg menjelaskan wanita2x yg boleh & tidak boleh dinikahi. Dan pada ayat 24 dijelaskan bahwa tidak boleh menikahi seorang wanita yg bersuami.

Islam mendasarkan ajarannya pada persamaan hak antara pria & wanita. Tetapi persamaan hak yg dimaksud di sini bukanlah seperti yg sekarang banyak diteriakkan secara membabibuta oleh para pejuang feminis, yaitu secara mutlak & total. Persamaan hak pria & wanita dalam Islam adalah ditempatkan pada porsi yg semestinya sesuai kodrati yg berbeda antara pria & wanita. Ada bidang2x tertentu dimana justru tidak pada tempatnya untuk menyamakan posisi pria & wanita. Misalnya : kalau seorang karyawati berhak mendapatkan cuti hamil selama 3 bulan penuh, apakah seorang pria juga berhak menuntut hak yg sama? Tentu saja tidak. Secara umum hampir semua orang juga setuju pembebanan pekerjaan juga tidak semuanya dapat diberlakukan sama antara pria & wanita, misalnya utk pekerjaan keras & kasar spt kuli, tukang becak, beberapa cabang olahraga, militer, dan masih banyak lagi, juga tidak selayaknya disamakan porsinya antara pria & wanita yg mempunyai perbedaan dalam kekuatan fisik, otot, & psikis-nya. Sangat banyak contoh2x lain yg juga mendukung bahwa persamaan hak bukanlah berarti meniadakan perbedaan kodrati antara pria & wanita.

Dalam hal ini, Poliandri dilarang dalam Islam karena beberapa hal sbb :

1. Kejelasan benih & garis keturunan. Bila seorang pria berpoligami, maka anak2xnya dari istri yg manapun tetap mempunyai status kejelasan dalam asal benih & garis keturunannya. Hal yg sama tidak dapat terjadi apabila yg berpoligami (poliandri) adalah wanitanya. Akan sangat sulit buat menentukan si anak mendapatkan benih dari ayah yg mana, dan siapa ayahnya yg sebenarnya sbg garis keturunan bila si ibu berpoliandri. Dalam banyak kasus baik sehubungan dg masalah sosial budaya ataupun masalah kejiwaan si anak, hal itu bisa mengakibatkan kekacauan tatanan hidup sosial di lingkungannya & gangguan mental yg melekat pada si anak sampai dewasa nanti. Hal ini juga sudah diakui oleh dunia psikologi. Memang pada masa sekarang kita sudah dapat menentukan garis keturunan seorang anak melalui test DNA. Tetapi test itu belum umum di masyarakat, mahal, & menuntut konsekuensi psikologis dari orang tuanya. Lagipula teknologi itu baru ditemukan pada abad 20, lantas bagaimana dg sekian belas abad yg sebelumnya? Orang akan kesulitan untuk menentukan garis keturunan seseorang bila menerapkan parktik poliandri.

2. Seorang pria lebih mempunyai jiwa poligami secara alamiah daripada wanita. Hal ini sudah dibuktikan dalam berbagai penelitian yg pernah dilakukan, dan bahkan ada penelitian terbaru yg menyatakan bahwa kecenderungan untuk berpoligami itu sudah ada dalam gen bawaan setiap pria. Sementara secara umum pandangan asli dari kebanyakan wanita adalah tidak adanya kecenderungan alami untuk berpoligami. Banyak angket2x yg terbuka maupun yg tertutup juga mengindikasikan hal yg sama, dimana para pria yg menyatakan cenderung punya keinginan berpoligami adalah jauh lebih besar daripada yg wanita. Mengenai gen bawaan untuk berpoligami, ada sebuah lelucon yg juga masih sedikit logis, yaitu bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, bukan pria diciptakan dari tulang rusuk wanita, dan tulang rusuk itu jumlahnya banyak, jadi sudah selayaknya beberapa wanita adalah milik seorang pria, bukan sebaliknya..😀

3. Seorang pria yg berpoligami apabila dapat melakukan manajemen rumah tangga dg baik, maka tidak akan ada masalah dg kehidupan sexualnya. Lain halnya dg wanita yg berpoligami. Wanita yg punya beberapa suami sangat mungkin akan mempunyai masalah dalam kehidupan seksualnya bahkan kesehatan seksualnya karena kecenderungan kemungkinan adanya aktivitas seksual pada saat yg bersamaan. Hal mana tidak akan terjadi pada suami yg punya beberapa istri (maaf, untuk point yg ini saya tidak bisa menuliskan detail karena alasan kesopanan..😀 ).

4. Alasan2x yg diuraikan di atas dapat dg mudah kita temukan, tetapi mungkin masih banyak lagi alasan mengapa Allah melarang pernikahan poliandri.

KESIMPULAN

Jadi beberapa kesimpulan dari uraian diatas adalah :

1. Ajaran Islam hanya membolehkan poligami terbatas dg aturan2x tertentu sebagai “jalan keluar” dalam kondisi2x sosial tertentu pula yg dalam kenyataannya kadang2x memang membutuhkan diterapkannya poligami

2. Hanya di Al-Qur’an terdapat pernyatan tegas untuk menikah hanya dg satu orang wanita saja, sedangkan dalam kitab suci agama2x selain Islam, tidak terdapat larangan tegas untuk tidak ber-poligami, malah banyak sekali contoh2x praktik poligami tidak terbatas dalam kitab2x tsb.

3. Di dalam agama2x selain Islam, larangan poligami bukan berasal dari dasar ajaran agamanya & kitab sucinya, tapi berasal dari keputusan para pemuka2x agamanya. Sedangkan Islam tidak melarang penuh praktik poligami, karena kenyataan pada kitab sucinya memang tidak dilarang, hanya dibatasi oleh ketentuan2x yg harus dipenuhi. Dan sikap umat Islam terhadap kitab sucinya tidak pernah berubah, bahwa Al-Qur’an adalah dasar hukum nomor satu. Ketentuan dari pemuka2x agama Islam untuk suatu permasalahan hanyalah beberapa tingkat kekuatan hukumnya di bawah Al-Qur’an & tidak boleh bertentangan. Di lain pihak tampaknya di agama2x lain hal tsb tidak terlalu menjadi masalah, terbukti aturan pelarangan total thd poligami ternyata bukanlah bersumber dari ajaran dasar agamanya atau kitab sucinya, tapi hanya berasal dari ketentuan para pemuka agamanya. Hal yg sama misalnya juga terjadi spt pada kasus pengangkatan pastur yg penganut homoseksual di Amerika, juga dg menikahkan pasangan sesama jenis di gereja2x Amerika & Eropa yg pernah beberapa kali disiarkan di berita TV, dan beberapa kasus lain yg semuanya sebenarnya tidak didukung oleh kitab sucinya tapi tetap disahkan oleh gereja2x yg bersangkutan (kisah penghancuran Sodom & Gomorah dalam kitab Perjanjian Lama Kristen, adalah karena Tuhan melaknat penduduknya yg mempraktekkan homoseks – baca : Kitab Kejadian 18-19).

4. Alasan2x dalam kenyataan kehidupan sosial masyarakat dunia dari masa ke masa ternyata sangat relevan dg kebutuhan dibolehkannya pernikahan poligami, yg menunjukkan bahwa poligami sebagai sebuah “jalan keluar” kadang2x memang diperlukan. Dan Tuhan sbg pengatur kehidupan manusia jelas mengetahui hal itu, maka sebenarnya ajaran tentang poligami dalam Al-Qur’an sudah sesuai dg fitrah manusia itu sendiri, tentu saja apabila hal itu dijalankan dg benar sebagaimana mestinya, bukan untuk disalahgunakan.

5. Poliandri tidak dibenarkan dalam Islam adalah untuk kepantasan & kebaikan si wanita sendiri beserta keturunannya yg sudah seharusnya lebih dilindungi & mendapatkan kejelasan tentang asal benih & garis keturunannya.

6. Sebagai umat yg mempercayai Al-Qur’an sebagai ajaran & hukum yg berasal dari Tuhan, umat Islam sudah semestinya untuk menerima ketentuan yg diatur oleh Al-Qur’an, baik ia pria ataupun wanita. Gerakan feminis belakangan ini yg semakin gencar memperjuangkan hak2x wanita & menyerang aturan poligami Islam, semestinya bisa menyadari bahwa unsur2x yg dianggap merendahkan & menghina wanita dalam poligami Islam tidaklah pada tempatnya, karena yg selama ini menimbulkan kesan jelek adalah para pelakunya yg tidak dapat menerapkan poligami dg baik, dan bukan poligaminya itu sendiri. Sebab poligami bila diterapkan dg baik & benar, ternyata juga tidak bermasalah. Dan banyak contoh seperti itu dalam masyarakat. Sitoresmi, seorang selebriti yg baru2x ini ditampilkan dalam sebuah acara talk show di TV sbg seorang “korban poligami” diluar dugaan menyatakan bahwa dirinya dan keluarganya ternyata tidak punya masalah yg berarti dg kehidupan poligaminya. Ia mengatakan : “Ilmu itu ada banyak, salah satunya adalah ilmu poligami. Kalau ada orang yg melakukan poligami janganlah anda serang, karena belum tentu ia bermasalah seperti yg anda kira. Kalau anda mengira pasangan poligami itu selalu bermasalah sedangkan pelakunya sendiri tidak, maka semestinya anda berpikir, oh.. ternyata ilmu saya belum sampai kesana..”.

7. Sebagai umat muslim yg hidup dijaman modern, dimana sudah semakin sedikit orang yg berpoligami, tidaklah salah kalau kita berpendapat bahwa yg paling baik & adil itu ya dg menikah monogami, karena memang spt itu juga yg tersirat dalam Al-Qur’an. Tetapi kita juga tidak boleh menyingkirkan sama sekali pembolehan berpoligami sebagai sebuah “jalan keluar” (spt juga perceraian yg dibenci Tuhan tapi halal sbg jalan keluar terakhir dalam mencari kebahagiaan berumahtangga), karena menyingkirkan hal tsb bisa berarti tidak mempercayai isi kitab suci yg berisi kata2x Tuhan dan berisi hukum2x untuk kebaikan manusia itu sendiri. Cukup menyedihkan saat melihat para muslimah pejuang feminis berteriak berapi2x di TV menentang poligami, termasuk dg kata2x kasar semacam (maaf) “bullshit” untuk menanggapi poligami yg diatur oleh agama. Bahkan diantara mereka yg berteriak2x itu ada yg mengenakan jilbab layaknya seorang muslimah sejati yg semestinya bisa lebih memahami lagi permasalahan poligami dg pikiran jernih, tidak hanya menonjolkan ego kewanitaannya yg sempit saja & terbawa arus pendapat pejuang feminis Barat yg sesungguhnya tidak mengetahui permasalahan sebenarnya.

8. Sedangkan bagi sohib2x non muslim, janganlah isu poligami yg sedang memanas itu membuat anda terpengaruh pada pendapat golongan2x tertentu untuk berpandangan jelek pada aturan poligami yg diterapkan dalam agama Islam, apalagi setelah membaca uraian saya sebelumnya tentang poligami di agama2x selain Islam, termasuk sampai ikut2xan menghujat tanpa pengetahuan yg memadai bagaimana sesungguhnya posisi poligami dalam ajaran Islam maupun dalam ajaran agama anda sendiri. Biarlah hal itu menjadi bagian dari kehidupan pribadi masing2x, karena umat Islam meyakini apabila poligami itu dapat dilakukan dg baik sesuai porsi & aturan yg ada, juga tidak akan menimbulkan masalah. Pernyataan dari Sitoresmi sbg selebriti “korban” poligami spt yg diungkapkan sebelumnya hendaknya bisa menjadikan pemikiran bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap poligami & para pelakunya.

9. Bagaimanapun poligami masih jauh lebih baik dibanding sistem hidup yg diterapkan di Barat yg notebene mayoritas non muslim selama ini, dimana orang menikah monogami hanyalah formalitas saja, sedangkan diluar itu mereka juga melakukan “poligami” tidak terbatas (pria & wanita) dg perselingkuhan pada banyak pasangan yg sudah sangat lazim dalam masyarakat di sana yg membuat sistem hidup mereka menjadi kacau balau.

Demikian uraian saya tentang poligami. Semoga bisa menambah wawasanyg berguna bagi kita semua. Segala saran & kritikan yg membangun adalah tambahan ilmu buat saya.

Referensi utama :

1. Islam Menjawab Gugatan, Dr. Zakir Abdul Karim Naik, Mei 2004, India

2. Abrahamic Faiths : Judaism, Christianity, and Islam, Similiarities and Contrasts, Dr. Jerald F. Dirks, 2004, USA.

3. Al-Qur’an & terjemahannya, Departemen Agama RI

.4. Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia

Referensi pendukung :
– Beberapa buku lain.

May Allah bless we all

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

-rkh–

———————————————————-

Sampaikanlah, meskipun hanya satu ayat”

———————————————————-

  1. maggie
    Agustus 22, 2007 pukul 3:31 PM

    kalo berdasarkan yang anda paparkan di atas bisa ga kalo saya simpulkan persoalan poligami asalnya adalah nafsu ????
    (maaf kalo salah)
    aku sebel kalo ada yg bilang alasan poligami untuk mengikuti sunnah rosul, untuk membantu tk perekonomian si wanita dll, cukup lah kalo di bilang laki2 berpoligami karena kecenderungan mempunyai nafsu yg sgt besar sehingga tidak cukup dgn satu perempuan aja…………,
    aku bukan pejuang feminis …..
    tapi aku wanita dan bisa berempati pada mereka yang telah merasakan atau setidaknya mengetahui pahitnya cerita poligami yang dialami wanita…..sehingga byk muslimah (berjilbab) ikut2 berteriak keras menentang poligami
    mungkin karena aku wanita juga…. setiap ada ceramah agama yang menyinggung urusan keluarga (poligami) yang selalu menyalahkan wanita… aku sakit hati…. mungkin tidak hanya aku tapi byk sekali muslimah sakit hati karena hal ini ….
    boleh ga nanya dikit???
    apa bener kalo minta cerai karena suami mau poligami termasuk wanita yg tidak dpt mencium bau surga ?????
    aku ga tau byk ttg agama tapi aku baca2 buku juga sedikit aku pernah baca hadis tentang seorang perempuan yang menghadap rosulullah dan mengatakan tidak menyukai suaminya lalu rosulullah menyuruh suaminya utk menceraikan wanita itu..
    kalo alasan tidak suka aja bisa jadi alasan untuk bercerai kenapa alasan poligami yang jelas2 menyakiti perempuan (dalam hal ini minta cerai karena sakit hati kan) tidak bisa dihitung sebagai alasan untuk minta cerai sehingga wanita di dosa2kan lagi???
    emang masih byk wanita yang mau dan ikhlas untuk poligami…. karena selamanya nafsu laki2 yg sgt besar itu jg ada terus….

    rkh :

    Wah..wah.. mbak maggie ini seorang istri yg akan dimadu oleh suami anda ya..? Soalnya tampaknya anda bisa lebih galak dari para pejuang feminis.. 🙂

    Apa anda maggie yg tempo hari juga kasih komentar buat tulisan “Keajaiban keseimbangan kata dalam Al-Qur’an” ? Soalnya kelihatan berbeda. Maggie yg kemarin adalah seorang yg menyukai diskusi agama dg logika dan ingin belajar lebih banyak, sedangkan maggie yg ini kelihatan menonjol sekali sisi ego & emosional-nya dg cara berpikir yg tidak logis.. Yg mana maggie yg “asli” ya, yg kemarin atau yg sekarang ini..? Kelihatannya mungkin yg ini yg lebih “asli” ya.. 🙂 (mohon maaf kalau salah..)

    Mbak maggie, Saya tahu perasaan anda, tapi anda mungkin lupa kalau saya sudah berpesan pada anda untuk menggunakan logika & hati nurani, bersikap kritis, dan tidak menutup diri terhadap informasi (baik yg menguntungkan anda ataupun tidak). Anda ingin belajar lebih banyak? Selama anda masih melihat suatu masalah hanya dari satu sudut pandang saja, dan masih mendahulukan emosi di atas pikiran jernih dalam menilai sesuatu, maka anda akan menemui kesulitan untuk maju. Jadi saran saya, tekanlah emosi anda, lihat masalah dari berbagai sudut yg mungkin, kemudian kumpulkan semua informasi yg ada baik yg menguntungkan anda maupun tidak, kemudian analisa dg baik. Saya yakin setelah itu anda akan mampu melihat banyak hal dg lebih baik. Selama anda belum mampu melakukan itu, maka diskusi kita juga tidak akan bermanfaat karena anda akan sulit untuk menerima suatu informasi kalau itu bertentangan dg keinginan anda. Kalau anda sudah siap nanti, saya akan dg senang hati melanjutkan diskusi kita ini. 🙂

    Terlihat jelas kalau anda belum memahami benar tulisan saya, jadi sebaiknya anda baca lagi beberapa kali. Atau emosi anda terlalu dominan sehingga menutup pemahaman logika anda. Mungkin juga anda termasuk yg tidak siap membaca tulisan2x saya seperti yg saya tulis di halaman About me & this blog. Coba anda lihat ke sana. Tapi jangan terlalu dimasukkan hati ya.. 🙂

    Salam,
    -rkh-

  2. maggie
    Agustus 22, 2007 pukul 3:42 PM

    kalo tidak salah sitoresmi adalah istri ke-4 ????
    kalo mau adil harusnya yang ditanya adalah perasaan istri pertama pak???? ketika pertama kali dimadu tentunya bukan ketika dimadu yang ke 4🙂
    maaf bukan bpk2 ya???

    rkh :

    Mungkin anda benar soal Sitoresmi adalah istri ke-4 dan madu2xan itu. Tapi sebenarnya sama saja, istri pertama atau ke 4 mereka semua adalah istri2x yg harus berbagi suaminya dg 3 istri lain. Bukan berarti istri keempat berbeda masalahnya dg istri pertama. Dan kalau mereka tidak punya keikhlasan untuk melakukan itu, kemungkinan rumahtangga mereka sudah hancur.

    Kenapa yg ditampilkan adalah Sitoresmi dan bukannya istri pertama ? Ya karena Sitoresmi adalah seorang artis yg kebetulan menjalani sebuah keluarga yg berpoligami. Dan yg punya acara butuh seorang publik figur untuk menjadikan acara diskusinya menarik. Lha kalau istri pertama yg tampil mungkin acaranya jadi tidak menarik dan bisa membuat orang bertanya2x kenapa dia yg ditampilkan, bukannya Sitoresmi yg memang menarik untuk dilihat & didengar karena dia adalah seorang artis yg memang cantik, cerdas, dan alim.

    Iya benar, saya belum jadi bapak-bapak. Tapi hal itu tidak mengendurkan saya untuk juga mempelajari tentang perkawinan & rumah tangga, termasuk masalah poligami ini. Karena tidak ada batasan dalam menimba ilmu selama itu bermanfaat & dilandasi niat baik. Seperti kalau saya ingin menguasai ilmu kristologi, bukan berarti harus memeluk agama kristen dulu kan.. 🙂

    Mungkin malah mbak maggie yg sudah ibu2x ya.. soalnya tampaknya kuatir sekali suaminya akan berpoligami.. 🙂
    Maaf kalau salah. Tapi kalau benar juga jangan diambil hati. 🙂

    Salam,
    -rkh-

  3. rkh
    Agustus 27, 2007 pukul 7:42 AM

    @ Thom

    Halo mas Thom..

    Ehm.. lagi2x anda orang yg belum memahami tulisan saya.. 🙂

    Anda tidak setuju poligami? Silakan saja. Itu hak anda.
    Tapi sayang, anda keliru menilai saya dan keliru memahami tulisan saya. Pandangan saya terhadap poligami jelas tergambar pada tulisan saya tersebut dan pada komentar saya di tulisan Berpasangan dalam penciptaan. Jadi sebaiknya anda baca lagi tulisan saya barulang kali, insyaallah anda akan dapat memahaminya dg lebih baik.

    Saya cuma akan menanggapi sedikit, menurut saya anda keliru menggunakan logika dan terlalu gegabah dalam menggunakannya. Anda bukannya ber-agama dg logika, tapi malah meng-agama-kan logika yg ternyata sama sekali tidak logis. Ada perbedaan besar antara keduanya. Semua yg anda pertanyakan akan anda dapatkan jawabannya kalau anda benar2x (mau) memahami tulisan saya dan mau membentuk pemahaman agama dg logika, bukan meng-agama-kan logika. Bisa jadi anda juga termasuk yg tidak siap membaca tulisan saya (baca halaman About me & this blog).

    Saya sudah tegaskan kalau saya tidak ingin melayani debat kusir dg anda. Komentar anda saya muat adalah sebagai contoh buat pembaca lain bahwa pemikiran seperti anda inilah yg juga termasuk meng-agama-kan logika, menulis komentar tanpa memahami dulu tulisan yg dikomentari, dan berupaya melakukan provokasi terhadap penulisnya.

    Saya sama sekali tidak marah pada anda. Saya sangat sadar resiko untuk berdakwah dg sharing informasi dg topik2x spt ini. Hanya saja untuk lain kali mungkin saya akan pikirkan lagi untuk menampilkan komentar semacam yg anda tulis ini, karena bisa menjadi hal yg tidak sehat bila dibaca oleh pembaca lain. 🙂

    Oh iya, kalau anda merasa punya pandangan2x tentang agama yg lebih baik, saya sarankan anda membuka blog sendiri. Anda boleh menulis sebebas anda mau di sana. Biar orang lain nanti yg menilai seperti apa bagusnya pemikiran anda.. 🙂

    Semoga Tuhan berkenan memberi hidayah pada anda.

    May Allah bless you.

    Shalom,
    -rkh-

  4. Thom
    Agustus 27, 2007 pukul 3:22 AM

    Dear,
    kalau saya seh gak akan mungkin poligami, salah satu syarat poligami kan adil, nah makna adil ini apa? emang ada manusia yang sudah mampu adil? adil kepada diri sendiri saja sulit apalagi mencoa bersikap adil kepada banyak istri (hehehe…)

    Ok mari kita bermain logika disini.. (karena banyak yang nyruh make logika seh..)

    gak usah banyak2 deh 2 aja istri nya….

    nah adil nya ini dari sisi mana..?

    1. Masalah keuangan.. gimana cara adilnya apa dengan mendapat setoran 50%-50%?
    2. Masalah hubungan diranjang… mampu kita bersikap adil??? kalau istri pertama 3 kali organsme.. jika mau adil maka istri kedua juga harus 3 kali organsme… (hehehe)… pasti kan ada waktu nya lupa nahan diri… akhirnya gak adil deh..!!
    3. masalah keturunan,, kalau kita mau adil seharusnya setiap keturunannya harus sama… (beda kalo istrinya yang gak mau) tapi itu keharusan karena menyangkut keahagian istri dan masalah ak waris… (emang yakin mampu anak dari tiap istri 3 orang misalnya)..

    Buat saya kegetoalan rkh terhadap poligami hanya karena dia emang doyan main cew (heheh… jangan marah ya.. mudah2an salah😉 )
    coba kalau istri melakukan hal yang sama, kawin lagi karena suaminya sakit misalnya..(impoten gt..) kita kan tetap pengen sang istri setia dalam segala kondisi… begitu juga sebaliknya.,

    ok deh…

    see u….

    wassalam

  5. maggie
    Agustus 28, 2007 pukul 10:15 PM

    boleh kasih saran kan???
    Jangan terlalu arogan pak…..
    Sehingga niat untuk berdakwah bisa benar2 dinilai sebagai ibadah……
    Jadi orang ga ngerti agama kayak saya ini ga takut nanya
    itu kalo masih boleh nanya lho…..
    jangan dimasukin hati ya

    rkh :

    Alhamdulillah.. terima kasih pak.. 🙂
    Insyaallah saya selalu dijauhkan dari sifat jelek itu..

    Tapi sesama manusia memang harus saling mengingatkan.

    Kalau macan dinilai belangnya, kalau gajah dinilai gadingnya
    Kalau seseorang mungkin bisa dinilai dari jejaknya.
    Jejak itu bisa berupa hasil kerja, prestasi, ucapan, dll.
    Kalau di Internet mungkin seseorang bisa dinilai dari tulisannya, etikanya, ilmunya, mungkin juga “IP”nya, dll. sekalipun dia seorang “anonim” 🙂

    Jadi lebih bijaklah bersikap, karena dari apa yg kita tampilkan, orang bisa tau apa yg ada dalam hati & pikiran kita, orang akan bisa tau “siapa” kita… 🙂

    Shalom,
    -rkh-

  6. Jordan's Mom
    September 8, 2007 pukul 9:10 AM

    I am a psychologist. Saya tertarik akan ulasan mengenai polgami sudah menjadi bagian dari Gene pria dan saya tidak setuju akan pendapat itu. Keinginan untuk berpoligami jatuh dalam kategori “behavior”. Gene tidak menentukan “behavior”. Behavior is learned, not inherited.

    Pandangan yang lebih sederhana, saya melihatnya dari penciptaan manusia. Allah akan menciptakan Siti Hawa, Siti Nurlela, Siti Menanjung dan Siti Marilyn (perhaps) untuk Adam, seandainya Adam diciptakan dengan gene polygamy.

    Try to be very careful in giving opinion by quoting Allah.

    Wassalam

    rkh :

    Terima kasih informasinya.. 🙂

    Menurut saya, mungkin saja bisa terjadi perbedaan pandangan dalam disiplin ilmu yg berbeda. Mungkin anda benar dg pendapat anda, tapi saya memang pernah mendengar ada pendapat baru yg mengatakan bahwa faktor genetik juga bisa mempengaruhi kecenderungan behavior (bukan menentukan behavior). Dan hal itu ikut saya cantumkan di tulisan saya karena referensinya juga menyatakan hal yg sama. Di tulisan itu, saya juga bukan menyebut “menentukan” tetapi “mempengaruhi kecenderungan”.

    Saya juga tidak terlalu paham tentang ilmu genetika ataupun psikologi karena memang bukan bidang saya. Tapi saya kira hal itu juga tidak akan menurunkan atau “mencederai” kebesaran Allah. Karena bisa saja orang (mungkin terutama wanita) akan menganggap Tuhan telah bertindak tidak adil dan merendahkan kaum wanita dg “melegalkan” poligami dalam Qur’an dan juga kitab2x suci lain, serta “membiarkan” banyaknya masalah2x spt yg diungkap di tulisan itu yg mendukung perlunya diterapkan poligami. Padahal Allah pasti membuat suatu aturan dalam Qur’an adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, hanya manusianya saja yg dg sifat “manusiawi”nya kadang2x memang sulit untuk menerimanya. 🙂

    Bagaimanapun, komentar anda sangat baik sebagai bahan diskusi. 🙂

    Thanks for your respect.

  7. September 10, 2007 pukul 2:08 PM

    Dalam suratnya tanggal 6 Nopember 1899, Kartini -walaupun secara eksplisit hanya sekali menyebut kata ‘poligami’- dengan berani berucap :
    ….Aku tidak akan pernah, tidak pernah bisa mencintai. Bagiku, untuk mencintai, pertama kali kita harus bisa menghargai pasangan kita. Dan itu tidak kudapatkan dari seorang pemuda Jawa. Bagaimana aku bisa menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah dan sudah menjadi seorang Ayah? yang hanya karena dia sudah bosan dengan istrinya yang lama, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya? Ini sah menurut hukum Islam. Kalau seperti ini, siapa yang tidak mau melakukannya? Mengapa tidak? Ini bukan kesalahan, tindak kejahatan ataupun skandal; Hukum Islam mengijinkan laki-laki beristri empat sekaligus. Meski banyak orang mengatakan ini bukan dosa, tetapi aku, selama-lamanya akan tetap menganggap ini sebagai sebuah dosa.

    Sumber tulisan dari buku AKU MAU……
    FEMINISME DAN NASIONALISME
    surat-surat kartini kepada stella zeehandelaar 1899-1903
    halaman xxvi

    Maaf, tulisan di atas mewakili kemarahan saya atas tulisan anda tentang poligami.
    Mungkin secara emosional saya belum dewasa. Tapi sebagai seorang perempuan, saya sudah pernah melewati masa mengandung dan melahirkan.

    Sebagai seorang laki-laki, anda tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaan seorang perempuan.

    Menjadi perempuan itu tidak mudah. Meski saya sangat paham dan mengerti bahwa sebenarnya perempuan itu lebih kuat dari laki-laki.

    Saya bukan seorang feminis.
    Saya hanya ibu rumah tangga biasa yang sedang berproses untuk menjadi istri yang setia dan ibu yang baik untuk anak saya.

    Sampai kapanpun saya tidak akan pernah bisa menerima sistem poligami. Tidak akan pernah ada keadilan dalam sistem seperti itu. Bagaimana bisa disebut adil jika kita harus melukai yang lain?

    Terima kasih untuk tulisan anda.
    Semoga suatu ketika kita bisa mempunyai cukup waktu untuk berdiskusi.

    Salam hangat…. Yuli.

    rkh

    Halo mbak yuli.. 🙂 kita langsung aja ya..

    >>Maaf, tulisan di atas mewakili kemarahan saya atas tulisan anda tentang poligami.

    Anda marah pada tulisan saya (atau pada saya? 🙂 )dalam item yg mana? Inti dari tulisan saya (dan mewakili pandangan saya) adalah sbb :

    1. Saya tidak setuju pada beberapa kelompok tertentu dalam Islam yg berpandangan bahwa poligami bagi pria adalah suatu kewajiban. Dan saya tunjukkan berdasarkan referensi bahwa poligami di Islam bukanlah suatu kewajiban, tapi hanya dibolehkan dg syarat2x tertentu.

    2. Saya membela kaum muslimah dg menyatakan berdasar referensi bahwa esensi sebenarnya dari ayat Qur’an tentang poligami adalah justru menganjurkan untuk beristri satu saja. Poligami dalam Islam hanyalah suatu “jalan keluar” yg justru tidak dipunyai dalam agama2x lain.

    3. Poligami dalam Islam adalah sering dianggap sbg titik serang terlemah nomor 1 bagi orang2x diluar Islam untuk membuat kalangan mereka membenci Islam dan bahkan untuk memurtadkan umat Islam (terutama para wanitanya), karena memang sangat sulit untuk menjelaskan bahwa pengaturan poligami dalam Islam bukanlah suatu ajaran yg jelek, bila hanya melalui pendekatan ajaran agama Islam saja. Melalui pendekatan gabungan antara ajaran Islam, realitas sosial, ilmu perbandingan agama, dan logika normal, saya telah berhasil mementahkan serangan2x mereka, dg membuat sebagian mereka menjadi sadar akan kebenaran konsep poligami dalam Islam (kalau mereka masih tergolong yg “mau berpikir”), ataupun membuat sebagian dari mereka benar2x marah karena apa yg mereka anggap sbg titik terlemah dalam ajaran Islam bisa saya balikkan menjadi suatu hal yg menunjukkan kebenaran & “kebesaran” Islam (kalau mereka termasuk orang2x yg bebal). Termasuk juga dg mengungkapkan kenyataan bahwa poligami memang ada secara umum dalam semua agama yg didukung oleh kitab sucinya, tapi malah dilarang oleh para pemuka agamanya tanpa memperhatikan masalah2x sosial yg kadang2x memang membutuhkannya. Sedangkan Islam mempunyai pengaturan terhadap poligami yg sangat fleksibel dan terbatas, serta mampu memberikan solusi yg tidak dapat diberikan di agama lain.

    4. Saya mengingatkan para muslimah untuk bisa berpikir & bersikap lebih bijak dalam masalah poligami ini agar tidak mudah terbawa & terpengaruh opini2x golongan pejuang feminis barat yg mengecam aturan poligami Islam yg sesungguhnya tidak mereka pahami benar permasalahannya, dan agar tidak malah “dimanfaatkan” oleh golongan2x tertentu untuk menyerang Islam dari dalam yg mungkin malah bisa mendukung upaya mereka untuk memurtadkan umat Islam.

    Nah, mbak yuli, yg mana yg telah membuat anda marah? 🙂 Kalau anda tidak mampu memahami tulisan saya karena keterbatasan intelektual, saya bisa pahami dan sudah saya bantu dg membuat 4 point utama dalam tulisan saya itu. Semoga bisa membuka wawasan anda. Tapi kalau ketidakmampuan itu karena dominannya sisi emosional anda, atau karena memang “tidak mau tahu”, saya hanya bisa berdoa semoga Allah berkenan memberi kesabaran dan hidayah pada anda agar suatu saat nanti anda bisa memahaminya dg lebih baik.

    Dan apabila anda adalah termasuk yg ada di point no 3 yg memang berniat untuk memusuhi & menyerang Islam dg berupaya mencari kejelekan2x Islam, semoga Allah memberikan hidayah-Nya pada anda melalui tulisan saya agar bisa mengubah pandangan anda yg jelek tentang pengaturan poligami dalam Islam, dan agar anda tahu bahwa dg adanya tulisan saya itu insyaallah akan banyak umat Islam yg membacanya yg menjadi sadar betapa indah kebenaran & kebesaran Islam itu. 🙂

    nb : saya ada referensi tentang siapa sebenarnya Kartini itu, dan apa latar belakang dari pemikiran2xnya. Dan kalau benar yg anda tulis itu, berarti semakin menguatkan pemahaman saya thd sosok Kartini itu. Setidaknya yg mudah dilihat, yg anda tulis itu (kalau benar) akan membuat orang tahu seperti apa kira2x pemahaman seorang Kartini thd agama Islam. 🙂

    Salam hangat juga dari saya.. 🙂

  8. September 20, 2007 pukul 9:15 PM

    Mungkin bisa saya kasih refrensi buku ttg sifat atau behavior yg menentukan adalah gene. Karya Matt Ridley, Kisah Species Manusia Dalam 23 Bab. Best Seller kalau gak salah.

    Di dalam buku tsb sebut dijelaskan bahwa pembawa sifat ada di kromosom no.9 (tiap bab membahas kromosom dr no 1 sd 23). Diuraikan sangat menarik. Misalnya, pria yg terlahir dgn sifat kewanitaan, di jaman dulu sebelum diketahui penyebabnya dikira krn lingkungan. Krn terlalu dekat dgn ibunya sehingga spt kewanita2an.

    Gene tsb diberi kode X25, krn mmg diturunkan dari sang ibu. Maka di usa sana banyak kaos yg favorit dikalangan gay yg bertulis,”thanks for the gene mom”. Itu ungkapan rasa terima kasih mrk atas gene X25 kpd ibu2 mrk.

    Coba deh dibaca. A must read book loh. Gak musti ahli genetika untuk paham itu buku.

    Dan, juga menurut buku tsb, hanya akal yg bisa mengendalikan gene tsb. Krn keinginan gene atas lawan jenis dari tubuh yg menjadi inangnya pun sangat kuat. Mrk selalu ingin memperbanyak diri.

    Diluar buku tsb, makanya islam mewajibkan puasa setahunsekali buat ngendaliin gene2 tsb.

    Mata melihat, gene bereaksi mengirim sinyal libido, dst… akan padam jika sudah terlatih di ramadhan ini.

    ————
    rkh :

    Terima kasih informasinya mas Irvany. Wawasan anda tampaknya sangat luas sekali. 🙂

    Ya, saya juga pernah mendengar dan membaca sedikit tentang X25 ini. Tapi bukan dari buku asli pengarangnya sendiri, mungkin waktu ada orang lain yg sedang membahas topik yg sama. Mudah-mudahan lain kali saya bisa membaca bukunya.. 🙂

    Terima kasih.

  9. Jordan's Mom
    September 27, 2007 pukul 12:12 AM

    Dear Irvany:
    Saya rasa anda mengartikan “behavior” as in “sifat”, seperti contohnya sifat air itu bisa memasuki liang liang kecil (pori pori), mengalir hanya kebawah. Sifat api itu panas, menjilat jilat. Sifat es itu dingin.

    Manusia lahir dengan “behavior” yang penting bagi manusia untuk survival. Banyak anak anak kecil yang memiliki behavior yang tidak pantas (e.g., galak suka mukul, cengeng, pelit, serakah). Bukan karena dia itu punya gene tukang nangis. Tapi hanya menangis itulah yang dia miliki sebagai baseline behavior sampai dia diajarkan behavior yang lebih diterima di masyarakat (meminta instead of mencuri, sabar instead of nangis keras keras sambil ngamuk). Ada pula orang yang dilahirkan dengan “developmental delay”. Saya rasa ini yang anda maksudkan campur tangan GENE, sebab developmental delay itu memang bisa diturunkan dari generasi atas. Tetapi kalau kita perhatikan, Gene yang dikandung anak ini adalah gene keterlambatan dalam development, dan bukan “gene cengeng” atau “gene galak”.

    Setahu saya, polygamy juga dihalalkan karena pria sudah sempat di “label” lemah dalam mengkontrol keinginan sexualnya. Labeling terhadap pria itu sudah SALAH. Saya rasa opini gene keinginan berpolygamy muncul dari labeling itu. Seolah olah manusia beranggapan bahwa “Allah made me this way”. That is bluntly wrong. Makanya saya kasih contoh di posting sebelumnya bahwa kalau Allah menciptakan Adam dengan gene keinginan beristri lebih dari satu, dari mula Allah SWT sudah akan menciptakan lebih dari satu bagi Adam. Contoh sederhana itu sudah berabad abad ada didepan mata manusia.

    Keinginan polygamy timbul karena manusia gagal menkontrol keinginan diri. Sedangkan Self Control itu bisa dicapai melalui latihan yang konsisten. Saya yakin psychologists, psychiatrists and behavior specialists would agree with me.

    Saya tidak bermasalah dengan tata keluarga polygamy. Kalau semua yang terlibat tidak bermasalah, ya silakan saja. Saya hanya menyayangkan kalau Allah SWT akhirnya kena “Tuding” telah menanamkan gene keinginan berpolygamy pada pria hanya karena pria itu lemah dalam self control.

    Saya juga mau singgung mengenai kebebasan berpendapat. Saya hargai kebebasan berpendapat semua umat manusia. Tapi kita perlu berhati hati menyampaikan opini kalau sudah mengutip “karya Allah”.

    Wassalam

  10. September 27, 2007 pukul 2:07 AM

    Trims atas masukannya. Mudah-mudahan sy selalu berhati-hati dalam menyampaikan pendapat. Prinsip sy dalam berpendapat adalah. Pendapat sy pasti ada bagian yg salah, dan ada bagian yg belum tentu benar. Dan selalu berkeyakinan bahwa lawan bicara sy lah pendapatnya ada benarnya. Krn dalam berdiskusi sy selalu bertujuan bukan untuk pribadi tp mmg untuk menambah wawasan kita semua, yg membaca atau mendengar diskusi kita.

    Terkadang sy melontarkan pernyataan agak sedikit kurang cerdas/kurang tepat untuk ukuran kita manusia, namun sy perkirakan jika sy ungkapkan akan memudahkan pendengar/pembaca diskusi dalam memahami topik diskusi. Krn ada contoh hitam putih (mana pendapat yg tepat dr lawan bicara sy vs statemen saya yg jauh dr kebenaran).

    Spt sy ungkapkan ttg gene ini. Sy lakukan dgn risiko salah total krn mmg bukan keahlian sy. Namun perkiraan sy ada kemungkinan ada manfaatnya. Dan jika ada yg lebih tahu, maka sy pribadi tentunya mendapat tambahan pemahaman atau malah koreksi total atas pemahaman sy yg salah selama ini.

    Dan ternyata kita ada kesepahaman bahwa ada sifat dasar (ketika masih bayi) terpenting yg ada tanpa stimulus dari luar. Dan kalau menurut pendapat sy dari membaca karya Matt Ridley, sifat penting itu tertulis di gene di dalam pita kromosom yg berisi kode-kode informasi yg terbentuk dari kombinasi berjenis-jenis protein, sebagaimana info lainnya mengenai warna kulit, jenis rambut, tinggi tubuh, kecerdasan, penyakit bawaan, dst nya.

    Bayangkan, manusia menciptakan robot hanya dari kombinasi bahasa biner ( 0 dan 1 – off dan on) sudah sangat canggih. Sedangkan manusia diciptakan dengan kombinasi protein. Jenis-jenis proteinnya pun tak terbatas, tentunya hasil kombinasinya pun tak terbatas. Sehingga manusia yg tercipta pun sangat kompleks. Untuk itu sangat tidak baik bagi sy tidak berhati-hati berpendapat ketika berdiskusi dgn lawan yg memiliki kombinasi sifat, kecerdasan, dan kebijaksanaan yg tak terbatas.

    Dan kepada mahluk yg bernama air yg selalu mengalir ke bawah, krn mmg di beri “sifat” molekulnya lebih berat dari udara. Dan “sifat” berat tsb sangat relative. Hanya berlaku jika ada gravitasi. Ketika tidak ada, maka pendapat kita sudah tidak bisa digunakan smp gravitasi tsb ada kembali.

    Tidak ada kebenaran yg mutlak, dan juga tidak ada pendapat yg salah total. Jika pendapat kita salah total dan tidak ada unsur kesombongan dan kesengajaan, sy yakin pahala tetap kita peroleh.

    Man arafa nafsahu fa huwa Rabbi : Barang siapa mengenal dirinya (fisik/sifat/gene?) akan mengenal Tuhan

    Salam…..

  11. rkh
    September 28, 2007 pukul 4:15 AM

    @Jordan,s mom

    Tentang ilmu psikologi, mungkin saja anda lebih “menguasai medan” dibanding saya, jadi mungkin saja pendapat anda benar. Tapi itu memang hanya bila kita melihat masalah dari kacamata psikologi, sedangkan saya kira masalah yg kita bahas ini jauh lebih luas dari sekedar dapat dijelaskan oleh ilmu psikologi. Karena hal ini dapat menyangkut disiplin ilmu lainnya, seperti genetika, dan mungkin juga ilmu2x yg lain. Itupun adalah ilmu yg kita ketahui dan dikembangkan oleh manusia yg memang tidak dapat melampaui ilmu Tuhan. Saya katakan spt itu karena kalau dalam membahas sesuatu tidak disertai kesadaran bahwa ilmu manusia itu sangat jauh dibawah ilmu Tuhan, maka kita bisa terjebak dalam pemikiran yg menuhankan akal dan ilmu kita sendiri, padahal ilmu manusia itu juga berasal dari Tuhan dan mungkin kita hanya diberi bagian yg tidak ada secuilpun dari ilmu Tuhan itu.

    Saya rasa informasi dari mas Irvany tentang gene X25 itu masih masuk akal, bahwa gen untuk gay itu memang ada dalam tubuh manusia, dan hanya akal dan kesadaran manusia-lah yg dapat mengontrol keinginan gen ini untuk memperbanyak diri dan mendominasi otak kita yg mengontrol hormon2x yg diproduksi oleh tubuh kita. Dan kemampuan & kesadaran kita untuk mampu menekan keinginan gen ini untuk mendominasi itulah yg ditentukan oleh behaviour kita yg kita latih sejak kecil, baik dg “kesadaran” kita sendiri maupun dari bimbingan orang2x yg membesarkan kita, yaitu umumnya adalah orang tua kita dan lingkungan sekitar. Hal inilah yg menyebabkan kalau ada seorang yg tumbuh besar dg “tidak semestinya”, orang tua dan lingkungannya juga ikut dianggap bertanggung jawab.

    Homoseksualitas adalah hal yg dilarang dalam agama. Dan bila ada seseorang yg tumbuh menjadi seorang gay, maka yg akan dipertanyakan selain kemampuan dan kesadaran dari dirinya sendiri adalah faktor orang tua dan lingkungan yg membesarkannya. Banyak kita baca kisah2x dari para gay yg mengaku merasa dan mengetahui dirinya berkecenderungan sbg seorang gay adalah sejak umur sekian pada saat ada kejadian tertentu. Dan bila saat itu ia dan lingkungannya gagal “menekan” keinginan itu, maka ia akan tumbuh menjadi seorang gay.

    Lantas, apakah kita akan menyalahkan Tuhan dg adanya gen X25 itu? Tentu saja tidak. Tuhan mestinya sudah memberikan gen X25 itu adalah dalam ukuran tertentu yg masih bisa “diatasi” oleh manusia. Jadi kalau manusia gagal meredamnya, maka ia dan lingkungan yg membesarkannya yg akan dipersalahkan. Lalu apakah Tuhan memberikan gen itu adalah sejak nabi Adam ataukah pada generasi ke sekian, mungkin hanya Tuhan yg tahu. Tapi hal itu tidaklah lantas membuat kita mempersalahkan Tuhan.

    Seperti tentang ras dan warna kulit misalnya. Ada banyak ras dg warna kulit dan ciri2x lain yg berbeda di dunia ini. Ilmu genetika mengakui kalau hal2x spt warna kulit dan ciri2x ras adalah sesuatu yg diwariskan, dan hal ini juga bisa dilihat oleh semua orang awam, bahwa kecenderungan warna kulit dan ciri2x ras tertentu dari si anak adalah mengikuti garis keturunan orang tuanya. Sedangkan dalam pemikiran agama semua ras tsb berasal dari gen yg sama, yaitu dari nabi Adam. Apakah itu berarti nabi Adam sekali waktu terlihat berkulit hitam dan berambut keriting, lain waktu terlihat berkulit kuning bermata sipit, lain waktu lagi berkulit putih dan berambut pirang, dll. ? Tidak mungkin. Itu tidak logis.

    Jadi mestinya ada dua kemungkinannya, pertama : yaitu gen yg menjadi ciri ras tertentu itu diberikan oleh Allah pada manusia adalah bukan sejak nabi Adam, tapi sejak generasi ke sekian dari beliau. Kedua : gen itu sudah ada dan diberikan oleh Allah pada manusia sejak nabi Adam, tapi bukan dalam ukuran dominan, dan gen itu menjadi dominan adalah karena hal2x tertentu yg mempengaruhinya yg terjadi pada generasi ke sekian ataupun secara berangsur2x dalam beberapa generasi. Ini bukan berdasar disiplin ilmu apapun, hanya murni dari logika normal saja.

    Dan kalau kita kembali ke topik kita tentang gen yg diwariskan itu bisa mempengaruhi kecenderungan poligami pada pria, dalam pandangan saya hal ini sangat relevan. Ada kemungkinan gen itu diberikan pada manusia oleh Allah adalah pada generasi kesekian dari nabi Adam setelah kondisi sosial manusia memang membutuhkannya, dan ada kemungkinan juga gen itu sudah ada sejak nabi Adam, hanya tidak dalam ukuran dominan, dan gen itu akan mempengaruhi kecenderungan manusia saat tercipta kondisi2x tertentu spt kondisi2x sosial yg memang membutuhkannya. Dan dari dua kemungkinan itu tidak ada hal yg membuat kita harus menyalahkan Tuhan kalaupun Tuhan misalnya memang memberikan kecenderungan poligami itu memang ada dalam gen seorang pria.

    “Allah akan menciptakan Siti Hawa, Siti Nurlela, Siti Menanjung dan Siti Marilyn (perhaps) untuk Adam, seandainya Adam diciptakan dengan gene polygamy”

    Kalau anda mengatakan demikian, dg penjelasan saya diatas tadi, saya kira anda tidak relevan. Karena kalau memang pengaruh gen itu sudah ada sejak nabi Adam, belum tentu kondisi dan situasinya menuntut pengaruh gen itu menjadi dominan, karena mungkin yg dibutuhkan nabi Adam saat itu hanya seorang wanita saja, sedangkan dari sisi kondisi sosisal, karena memang saat itu hanya ada satu wanita, yaitu Hawa. Dan kondisi2x itu bisa berbeda dg kondisi anak cucu Adam berabad-abad kemudian sampai masa sekarang ini. Sedangkan Allah maha tahu, sangat mungkin kan Allah juga mengetahui bahwa kondisi anak cucu Adam nantinya membutuhkan juga aturan poligami..? Jadi pengaruh gen itu (kalaupun sudah ada sejak nabi Adam) tidak membuat suatu keharusan bagi Allah untuk menciptakan 4 pasangan bagi nabi Adam. Dan tidak ada suatu alasan untuk membuat Allah sbg “tertuduh” membuat suatu kesalahan dalam menciptakan faktor2x genetik dalam tubuh manusia yg bisa mempengaruhi kecenderungan seorang pria untuk berpoligami. Dan kalau kita melakukannya berarti kita akan “mengecilkan” arti kebesaran Allah dalam ke-maha-pencipta-an-Nya dan ke-maha-tahu-an-Nya.

    ”Try to be very careful in giving opinion by quoting Allah.”

    Ya, insyaallah saya juga selalu dalam lindungan-Nya agar tidak salah dalam melakukan penilaian.

    ”Saya tidak bermasalah dengan tata keluarga polygamy. Kalau semua yang terlibat tidak bermasalah, ya silakan saja. Saya hanya menyayangkan kalau Allah SWT akhirnya kena “Tuding” telah menanamkan gene keinginan berpolygamy pada pria hanya karena pria itu lemah dalam self control.”

    “Setahu saya, polygamy juga dihalalkan karena pria sudah sempat di “label” lemah dalam mengkontrol keinginan sexualnya. Labeling terhadap pria itu sudah SALAH. Saya rasa opini gene keinginan berpolygamy muncul dari labeling itu. Seolah olah manusia beranggapan bahwa “Allah made me this way”. That is bluntly wrong. Makanya saya kasih contoh di posting sebelumnya bahwa kalau Allah menciptakan Adam dengan gene keinginan beristri lebih dari satu, dari mula Allah SWT sudah akan menciptakan lebih dari satu bagi Adam. Contoh sederhana itu sudah berabad abad ada didepan mata manusia.”

    Nah, dg penjelasan saya spt di atas tadi, saya kira pandangan anda tsb menjadi tidak relevan. Apalagi dg pendapat anda tsb jelas terlihat bahwa anda menempatkan poligami seakan-akan adalah sebagai sesuatu hal yg “rendah”, “hina”, bahkan mungkin “menjijikkan”, dan karenanya bila ada yg mengatakan gen seorang pria sudah membawa kecenderungan poligami, anda menganggap pendapat itu adalah menyerang, menuding, dan menyalahkan Allah karena melakukan kesalahan dg memberikan hal yg “hina” itu pada manusia.

    Sedangkan kalau menurut pendapat saya sih tidak seperti itu, kalau menurut saya sih andaikata Allah memang memberikan gen dg kecenderungan poligami itu pada pria bahkan sejak nabi Adam, itu tidak membuat Allah harus menjadi “tertuduh” melakukan “kesalahan” itu. Sama sekali tidak. Ilmu Allah jauh diatas apapun di alam semesta ini, apalagi hanya ilmu psikologi dan genetika yg dikembangkan manusia… 🙂

    Kalau Al-Qur’an membolehkan seorang pria untuk berpoligami, itu artinya Allah tidak menganggap hal itu sbg sesuatu yg salah (kalau dilakukan dg benar) dan harus dihindari seperti misalnya perbuatan dosa spt mabuk2xan dan membunuh orang tanpa alasan yg benar.

    “Kita perlu berhati hati menyampaikan opini kalau sudah mengutip “karya Allah”.

    Saya juga mau singgung mengenai kebebasan berpendapat. Saya hargai kebebasan berpendapat semua umat manusia. Tapi kita perlu berhati hati menyampaikan opini kalau sudah mengutip “karya Allah”.

    Jadi kebebasan berpendapat itu memang tidak mutlak. Ya, saya setuju sekali.. kita memang harus berhati-hati, dan ini untuk kita semua, termasuk saya, dan juga anda.. 🙂

    “Keinginan polygamy timbul karena manusia gagal menkontrol keinginan diri. Sedangkan Self Control itu bisa dicapai melalui latihan yang konsisten. Saya yakin psychologists, psychiatrists and behavior specialists would agree with me.”

    Saya kira anda salah dalam hal ini dg mematok bahwa permasalahan poligami ini hanya karena masalah “keinginan sexual”. Kalau anda baca tulisan saya, saya banyak menyampaikan tentang realitas banyaknya masalah2x sosial yg kadang2x memang juga membutuhkan dibolehkannya poligami, dan karenanya poligami bukanlah hanya menyangkut masalah seksual. Tampaknya pikiran anda terlalu sempit dg mematok demikian.. 🙂

    Anda orang Islam? Kalau ya, mungkin saja berarti anda tidak pernah belajar sejarah nabi Muhammad dg benar. Kalau anda mempelajarinya, anda akan tahu bahwa nabi Muhammad tidak berpoligami hanya semata-mata karena masalah seksual, tapi untuk masalah2x sosial dan politik. Coba anda pelajari dulu sejarah hidup nabi Muhammad. Dg mematok masalah poligami adalah melulu masalah seksual, anda sama saja sudah menyerang beliau dg mengatakan bahwa nabi Muhammad adalah seorang yg benar2x haus sex dg berpoligami dg sekian banyak wanita, dan tidak mampu mengontrol hasrat seksualnya. Apakah seperti itu..?

    “Setahu saya, polygamy juga dihalalkan karena pria sudah sempat di “label” lemah dalam mengkontrol keinginan sexualnya. Labeling terhadap pria itu sudah SALAH”

    Poligami yg dihalalkan menurut anda itu adalah yg untuk siapa, dan dalam konteks yg mana..? Kalau dalam konteks agama Islam menurut saya tidak begitu. Kalau dalam konteks Islam ada hal2x yg harus kita perhatikan. Siapa yg menurut anda melabeli manusia seperti itu? Nabi Muhammad? Ataukah Allah? Karena dalam Islam poligami dihalalkan adalah bukan keinginan dari umat Islam, tetapi karena di Al-Qur’an memang membolehkannya. Ini berbeda dg di agama lain yg kitab sucinya membolehkan tapi pemuka agamanya malah melarangnya.

    Al-Qur’an itu adalah berisi firman Allah yg disampaikan oleh nabi Muhammad pada umatnya. Islam menghalalkan poligami itu adalah dari Allah yg disampaikan oleh nabi Muhammad. Kalau anda mengatakan bahwa poligami dihalalkan itu salah, berarti anda menyalahkan Allah yg telah menghalalkannya! Dan kalau bukan Allah yg anda salahkan, artinya anda mengatakan yg salah adalah nabi Muhammad, dan itu artinya anda mengatakan bahwa nabi Muhammad itu mengarang saja penghalalan poligami dalam Al-Qur’an untuk kepentingannya semata, dan berarti bahwa ayat2x Qur’an itu bukan dari Allah tapi hanya buatan nabi Muhammad.. Mana diantaranya yg anda salahkan..? Beranikah anda menyalahkan salah satu diantara mereka..?

    ”Saya rasa opini gene keinginan berpolygamy muncul dari labeling itu”

    Anda juga menguasai ilmu genetika? Anda tidak bisa memvonis para ilmuwan genetika menyimpulkan penelitiannya berdasarkan labelling spt itu. Itu kan opini anda, anda juga belum tentu benar… 🙂

    Jadi sebenarnya anda juga harus berhati-hati, karena spt yg saya ungkapkan di atas, bahwa ternyata pendapat andapun bisa jadi justru menyerang Allah, tergantung dari sisi mana kita memandang. Dalam hal ini tampaknya pendapat anda malah jadi tidak relevan untuk mengkoreksi isi tulisan saya dan informasi dari mas Irvany.

    Saya sudah sering juga berdiskusi dg orang2x non Islam tentang topik poligami ini, terutama dg orang2x Kristen. Dan pola2x mereka dalam menyerang aturan peng-halal-an poligami dalam Islam adalah mirip dg yg anda sebutkan, yaitu termasuk dg membawanya ke kisah manusia pertama, yaitu nabi Adam yg tidak berpoligami.

    Maksudnya mana mungkin Tuhan membolehkan poligami sedangkan nabi Adam saja tidak poligami, dan kalau Tuhan membolehkan poligami, tentunya Allah juga memberikan 4 pasangan untuk nabi Adam. Ini sudah termasuk doktrin standard yg diajarkan di gereja pada umat Kristen untuk “menyerang” Islam (saya tahu sekali hal2x spt ini), hanya bedanya pendapat anda dibungkus dg ilmu psikologi, kalau yg umum diajarkan di gereja tidak, itu saja. Dan dalam diskusi2x itu alhamdulillah saya bisa mematahkannya serangan mereka.. 🙂

    Saya tidak tahu banyak tentang anda selain dari tulisan komentar anda di sini. Saya tidak tahu pasti anda siapa dan apakah benar2x beragama Islam atau bukan. Kalau anda memang beragama Islam, sebaiknya anda lebih berhati-hati dalam menulis komentar karena itu justru bisa menyerang Islam spt saya ungkapkan di atas, dan kalau anda non Islam (yg ingin menyerang Islam), ya saya rasa pendapat anda sudah terbukti tidak relevan untuk topik ini… 🙂

    ”Try to be very careful in giving opinion by quoting Allah.”

    Terima kasih.. 🙂

  12. rkh
    September 28, 2007 pukul 4:30 AM

    @Irvany

    Terima kasih sudah memberi informasi yg berguna sbg bahan diskusi.

    Anda sama sekali tidak salah. Kalaupun informasi tentang X25 itu memang ternyata salah, yg salah bukan anda tapi si ilmuwan yg menulis buku itu. Anda hanya memberi informasi bahwa ada referensi yg bisa dijadikan bahan pemikiran dan diskusi. Bukankah begitu..? 🙂

    Btw, saya juga punya opini tentang kebenaran mutlak yg mungkin bisa sama ataupun berbeda dg anda, anda bisa lihat dalam diskusi saya pada topik “Tuhan atau agama, mana yang anda pilih?

    Terima kasih.. 🙂

  13. Jordan's Mom
    Oktober 5, 2007 pukul 2:56 AM

    Dear Irvany,

    Saya sudah terbiasa fokus pada topik dengan single behavioral outcome. Yang saya komentari pada dua posting saya diatas adalah kata “Gene”. Tidak lain dari itu. Jadi tolonglah fokus pada “gene”. Kalau anda ingin membahas alasan alasan poligami lainnya, silakan buka subtopic baru, seperti subtopik “Apa yang salah dengan AA Gym”.

    Kalau anda membaca kembali komentar saya, saya beranggapan bahwa pendapat bahwa “Gene poligami” sudah ada pada pria karena pria sudah keburu dilabel sebagai mahluk yang lemah dalam menahan nafsu sexual. Saya beranggapan bahwa labeling ini salah. I repeat. “Labeling” yang salah. Bukan poligami yang salah.

    Komentar mengenai diskusi kamu dengan non-kristen itu biarlah jatuh pada subtopic baru sebab menurut saya hal itu tidak berhubungan dengan Discussion about Gene. Juga mengenai hal hal yang out of the topic seperti komentar “itu kan pendapat kamu”, “Orang kasih pendapat itu sah sah saja”, etc. Dalam diskusi yang bermutu, pendiskusi wajib mengemukakan dasar dari komentarnya. Itu sebabnya pada tulisan saya yang pertama, saya mengutarakan bahwa I am a psychologist. Dengan kata lain, saya mengemukakan pendapat sebagai licensed behavior specialist. Bukan asal berpendapat. Jadi menurut saya, komentar komentar “itu kan pendapat kamu”, “Orang kasih pendapat itu sah sah saja”, etc. itu tidaklah perlu. Sebab itu sudah “rule of thumb” yang sudah harus dimengerti.

    Wassalam

  14. rkh
    Oktober 8, 2007 pukul 4:55 AM

    @Jordan’s Mom

    Dear Irvany,

    Saya sudah terbiasa fokus pada topik dengan single behavioral outcome. Yang saya komentari pada dua posting saya diatas adalah kata “Gene”. Tidak lain dari itu. Jadi tolonglah fokus pada “gene”. Kalau anda ingin membahas alasan alasan poligami lainnya, silakan buka subtopic baru, seperti subtopik “Apa yang salah dengan AA Gym”.

    Terserah saja kalau anda tidak mau bicara dg saya, tapi karena anda bicara di blog saya dan langsung menyentuh topik dalam tulisan saya, maka sejauh itu saya berhak untuk memberi tanggapan pada anda. Lebih2x lagi anda sudah menyatakan keberatan anda dalam komentar sebelumnya dan sudah saya tanggapi dg sangat bijak, tapi anda masih saja bersikeras memaksakan pendapat anda yg seakan-akan kemudian anda tujukan ke mas Irvany. Mohon maaf kalau saya jadi lebih “keras” pada anda, karena spt niat anda, sayapun juga berniat untuk mengingatkan anda. Dan tidak ada yg salah dg itu.

    Untuk mas Irvany, kita tunggu saja apa dia masih berminat untuk menanggapi anda. Mungkin mas Irvany terlalu santun buat menanggapi anda, tapi tidak dg saya, saya lebih moderat. Dan mungkin kalau komentar itu anda katakan di depan orang Islam lain, atau mungkin dalam sebuah blog Islam, bisa jadi komentar anda sudah masuk tong sampah, atau anda sudah dikafir-kafirkan. Tapi saya tidak begitu, saya menghargai pendapat anda dan berniat sama dg anda untuk saling mengingatkan. Itu saja. Kalau anda tidak terima ya terserah saja..

    Semua yg saya bahas juga masih seputar topik yg sama yg sedang dibahas, untuk topik yg anda usulkan itu sudah ada yg membuatnya dg membubuhkan sebuah link tentang poligami ke tulisan saya. Itu sah2x saja, artinya orang lain menghargai tulisan saya, entah dg anda.. 🙂

    Kalau anda membaca kembali komentar saya, saya beranggapan bahwa pendapat bahwa “Gene poligami” sudah ada pada pria karena pria sudah keburu dilabel sebagai mahluk yang lemah dalam menahan nafsu sexual. Saya beranggapan bahwa labeling ini salah. I repeat. “Labeling” yang salah. Bukan poligami yang salah.

    Dengan komentar anda seperti yg anda tuliskan itu (sekalipun hanya pada fokus “gene” spt yg anda katakan), mau tidak mau anda sudah masuk ke ranah “berbahaya” spt yg saya ungkapkan yaitu dg secara langsung maupun tidak langsung telah mengecilkan kebesaran Allah, menghina Allah, menghina nabi Muhammad, dan menyerang poligami dalam Islam.

    Anda seakan menganggap poligami itu hina, sehingga kalau Allah memberikan gene itu pada manusia, akan membuat Allah menjadi tertuduh bersalah memberikan hal yg hina itu. Padahal jelas2x Allah tidak menganggap spt itu dg melegalkan poligami dalam Qur’an. Anda menganggap bahwa poligami itu hanya masalah seksual semata yg sebenarnya bisa diatasi dg latihan2x dsb. dll. Tidakkah anda sadari bahwa anda sedang “menyerang” Allah dg menyalahkan-Nya dan mengecilkan-Nya? Tidakkah anda sadari bahwa anda sedang menyerang nabi Muhammad dg mengatakan beliau sbg seorang haus seks yg tidak bisa menahan hasrat seksualnya dg latihan2x pengendalian diri spt yg anda dan orang2x psikologi itu telah kembangkan? Kalau anda tidak mau mengakuinya dan segera sadar, mohon maaf kalau nanti ada yg akan mengatakan bahwa anda termasuk orang bebal.

    Ini anda akui atau tidak terserah, semua orang yg membacanya dan bisa berpikir akan bisa menangkap maksud itu dalam tulisan komentar anda. Jadi kalau anda merasa tidak sengaja melakukannya, saya harap anda segera sadar, itu tujuan saya mengingatkan anda. Dan kalau anda sengaja, berarti anda memang bermaksud menyerang Islam, dan itu berarti saya harus meragukan kalau anda mengaku sbg seorang Islam, dan untuk itulah saya katakan bahwa saya sudah sering berdiskusi dan berdebat dg orang2x di luar Islam tentang topik ini, dan Alhamdulillah saya bisa mematahkan serang2xan mereka, termasuk terhadap anda. Ini saya lakukan karena saya hanya bisa mengenal anda dari apa yg anda tuliskan, karena apa yg keluar dari otak seseorang akan mencerminkan bagaimana isi otak itu sebenarnya.

    Jadi kalau anda mau mencoba lagi silahkan saja, tapi saya tidak akan berdebat kusir tanpa aturan dan cuma saling menghina saja, saya bukan orang spt itu. Saya menghargai pendapat dan perbedaan pendapat, tapi spt yg anda katakan, kebebasan berbicara itu memang tidak mutlak, saya setuju itu, untuk itulah saya harus mengingatkan anda. Kalau anda tidak terima, sekali lagi, itu hak anda dan terserah anda.

    Komentar mengenai diskusi kamu dengan non-kristen itu biarlah jatuh pada subtopic baru sebab menurut saya hal itu tidak berhubungan dengan Discussion about Gene. Juga mengenai hal hal yang out of the topic seperti komentar “itu kan pendapat kamu”, “Orang kasih pendapat itu sah sah saja”, etc. Dalam diskusi yang bermutu, pendiskusi wajib mengemukakan dasar dari komentarnya. Itu sebabnya pada tulisan saya yang pertama, saya mengutarakan bahwa I am a psychologist. Dengan kata lain, saya mengemukakan pendapat sebagai licensed behavior specialist. Bukan asal berpendapat. Jadi menurut saya, komentar komentar “itu kan pendapat kamu”, “Orang kasih pendapat itu sah sah saja”, etc. itu tidaklah perlu. Sebab itu sudah “rule of thumb” yang sudah harus dimengerti.

    Terima kasih atas saran anda. Di alinea terakhir ini malah orang mungkin akan benar2x dapat melihat siapa dan bagaimana anda sebenarnya.. 🙂

    Sebelumnya saya betulkan dulu, bukan dg non-kristen, tapi dg non Islam, terutama banyak dg orang2x Kristen, mungkin anda salah menuliskan non-kristen di atas, jadi saya harus membetulkannya dulu spy tidak jadi salah persepsi 🙂

    Kalau anda mau diskusi tentang “gene” yg mutlak hanya diskusi ilmiah tentang itu saja, ya anda jangan ke sini. Anda salah alamat. Tidak perlu kan saya kasih alamat untuk tempat2x yg tepat untuk itu, spt kampus2x dan organisasi profit dan non profit yg berkecimpung di bidang psikologi dan genetika..?

    Pembahasan anda tentang “gene” yg masih relevan di sini itu ya memang harus tentang poligami, sesuai topik tulisan saya, dan begitu pembahasan “gene” anda itu menyentuh topik poligami dan merambat menusuk ke dalam agama Islam dg mendiskreditkan Allah dan nabi Muhammad serta pandangan Islam terhadap poligami, saya tidak bisa membiarkan saja untuk tidak mengingatkan anda. Kalau anda orang Islam, lebih baik sekarang anda sedikit merasa tersinggung (kalau anda merasa begitu) daripada lain waktu anda akan dikafir-kafirkan orang.. Sedangkan niat saya sih hanya untuk saling mengingatkan saja, tidak lebih.. 🙂

    Anda boleh saja mengaku sbg seorang yg super ahli yg berlisensi di bidang anda dan terbiasa berbicara dg bahasa gado2x Indonesia-Inggris (mau english semua juga boleh..), dll. Saya percaya saja semuanya. Saya bukan tidak mempercayai kepakaran anda, tapi kalau ilmu seseorang tidak diamalkan untuk semakin memuliakan Allah dan ajaran-Nya yang mulia, apalah artinya..? Semua orang sama di hadapan Allah, hanya amalannya lah yg membedakan mereka semua di hadapan Allah. Allah adalah pakar diatas segala pakar, ilmu Allah jauh di atas apapun dan siapapun di alam semesta ini. Saya harap anda selalu mengingat itu dalam menyampaikan pendapat2x anda agar ilmu anda dapat menjadi berkah dan bukan malah jadi mudharat.

    Semoga anda bisa memahami penjelasan saya. Mohon maaf kalau anda sempat merasa tersinggung dg tulisan saya. Semoga Allah memberkati anda. Semoga Allah mengampuni segala kekurangan saya. Kesempurnaan hanyalah milik Allah.

    Wassalam 🙂

  15. feeling
    Oktober 9, 2007 pukul 10:31 AM

    Saya rasa tulisan bung rkh fair enogh. Saya bukan orang yang mendukung poligami bahkan anti sama sekali, bukan karena apa-apa. Tapi menurut saya Insya Allah sampai saat ini belum ada alasan yang memadai buat suami saya untuk poligami (moga2 suami berpikiran yg sama dengan saya : ) ). Poligami diperbolehkan apabila dilatarbelakangi dengan alasan yang logis seperti yang sudah dijabarkan diatas oleh bung rkh. Sekarang yang terpenting adalah memberikan pembelajaran buat ibu2 sekalian apabila suami-nya ingin ber-poligami. Sebaiknya kita mengkomunikasikan dan meminta penjelasan lebih lanjut yg sejelas2nya dari suami kita sehingga suami kita berniat untuk menikah lagi. Menurut hemat saya, apabila alasannya “daripada ber-zina” alias nafsu semata, saya rasa silahkan ibu2 meminta para suami untuk melihat ulasan bung rkh diatas, gimana…gitu aja kok repot…

    ————-

    rkh :

    Mbak Fitria, tampaknya anda cukup bijak dan praktis. 🙂

    Mungkin kalau boleh saya tambahkan, untuk kasus spt itu selain para suami disuruh melihat tulisan saya tadi, ada baiknya para ibu2x juga mawas diri, kenapa alasannya “daripada berzina” itu tadi. Kebanyakan dalam kasus spt itu orang hanya menyalahkan si pria, padahal tetap ada kemungkinan berhubungan erat dg si wanitanya sendiri. Misalnya, apakah para istri itu sudah melayani suaminya dg baik? Apakah mereka sudah memperlakukan suaminya dg layak? Misalnya melayani dg baik, lemah lembut, berdandan untuk suami, sebisa mungkin menjaga & merawat diri agar selalu “indah” di mata suami, memberikan support yg cukup untuk kegiatan & pekerjaan, cukup waktu untuk komunikasi, curhat, dll. Hal itu akan sangat membantu kalau anda tidak ingin suami spt kasus tadi. Mungkin mbak Fitria ini selain suaminya memang baik dan berprinsip monogami, mbak Fitrianya sendiri juga cukup memenuhi hal2x spt yg saya sebutkan tadi.. 🙂

    Akan berbeda hasilnya misalnya kalau si istri membiarkan dirinya tidak terurus, tidak pernah berdandan dan melayani suaminya dg layak, setiap hari ketus & mengomeli suami, tidak mau menurut kata suami, dll. Kalau yg seperti ini suami mana yg akan “betah” 🙂

    Jadi sebenarnya memang banyak faktor dalam masalah poligami ini. Jadi sudah selayaknya kalau kita semua juga menyikapinya secara bijak.

    Terima kasih 🙂

  16. Oktober 11, 2007 pukul 9:32 AM

    Dear All,

    Khusus yth AA Gym, sy bisa katakan bahwa beliau melakukan poligami bukan karena desakan gene or faktor sifat. Kita harus berbaik sangka dengan semua orang, termasuk AA Gym. Saya percaya beliau sedang melakukan siar islam dalam hal berpoligami. Krn kasus perselingkuhan dan kemasiatan saat ini (kalau kita berani jujur) sudah sangat akut/parah.

    Dahulu kala, bumi belahan timur maupun bumi belahan barat, poligami adalah hal yang lumrah. Jauh sebelum jaman nabi Isa as, poligami merupakan hal yg lumrah. Kenapa sekarang poligami jadi hal yg aneh? Apakah krn sudah lebih beradab? Tapi, disisi lain, tempat2 prostitusi menjamur dimana-mana pada masa sekarang.

    Bisa jadi (ini bisa kesimpulan salah, bisa juga sedikit benar) tidak berpoligami krn malu, tapi melakukan curi-curi kesempatan dgn mendatangi tmp-tmp panti pijat, spa, karaoke, club-club malam. Yg pada dasarnya, melakukan juga poligami namun dgn cara ilegal.

    Ngak penting pendapat siapa yg benar. Tapi kita harus bisa mencari akar permasalahan yg ada dimasyarakat khususnya prositusi, kemudian berani dgn jujur mencari solusinya.

    Mau yg benar gene atau sifat, gak penting, tapi prostitusi/kemasiatan makin menjamur. Dan tidak ada yg bisa cari jalan keluar untuk kebaikan masyarakat luas, dgn meredam/mengurangi tmp maksiat shg tidak menjerumuskan generasi muda baik laki maupun perempuan. Buat apa?

    salam….

    —————-

    rkh :

    Tentang poligami AA’ Gym, memang banyak pro dan kontra di sana, tentu saja karena dia adalah seorang publik figur yg melakukan hal yg telah diangkat menjadi topik yg dianggap penuh kontroversi ini. Mas Irvany benar, apa yg salah di sana? Apa yg salah dari AA’ Gym? Adalah bijak untuk selalu berkecenderungan memilih untuk positive thinking terhadap apa yg dilakukan seseorang, bisa jadi ketidaksetujuan penentangnya hanyalah karena ketidaktahuan saja, karena banyak sekali hal yg bisa berhubungan dg masalah poligami ini. Juga janganlah berlebihan dalam mengklutuskan seseorang, karena semua orang juga adalah manusia biasa yg punya kelebihan, kekurangan, pemikiran dan masalahnya sendiri.

    Buat para pembaca mungkin juga bisa menengok ke tulisan ini : http://omdien.wordpress.com/2007/10/02/apa-yang-salah-dengan-aa-gym/ dan ini : http://priyadi.net/archives/2006/12/08/aa-gym-dan-kultus-individu/

  17. Jordan's Mom
    Oktober 17, 2007 pukul 5:35 AM

    Dear rkh:

    Anda berkomentar sudah merambat kemana mana. Maksud saya untuk memberi komentar akan the word “gene” jadi diajak keliling kota. Anda sebagai pemilik blog tentu behak menulis pendapat anda. Itu sudah rule of thumb. Saya hanya mengingatkan penggunaan “gene” ini sebelum kita berani berani mengutip “Ini/itu adalah hasil karya Allah” padahal manusia nya yang malas melawan hawa nafsu.

    rkh :

    Saya juga akan mengajak anda berkeliling dunia kalau itu bisa untuk membuat anda memahami apa yg saya maksudkan. 🙂

    Yg jelas saya sudah menjelaskan pada anda secara detail bahkan dg sedikit tambahan dan analogi (yg anda bilang keliling kota) untuk menguatkannya, untuk menjelaskan pada anda bahwa anda tidak perlu mempermasalahkan apa yg anda persoalkan itu, karena dalam permasalahan gene dalam tulisan saya itu tidak ada yg perlu membuat Tuhan harus menjadi tertuduh bersalah kalaupun memang ada unsur yg mempengaruhi kecenderungan melakukan poligami dalam gene pria.

    Bahkan dalam komentar2x anda selanjutnya anda tidak pernah memberikan argumentasi apapun yg bisa menguatkan pendapat anda spt yg saya lakukan dan tidak pernah membantah argumentasi saya. Anda hanya terus mengatakan tidak setuju dg pemuatan topik itu tanpa penjelasan apakah anda setuju dg argumentasi saya ataukah anda punya argumentasi lain yg lebih kuat. Jadi mungkin tidak salah kalau saya anggap bahwa pikiran anda sudah setuju dg saya, hanya ego anda sbg seorang “pakar” psikologi (Atau sbg wanita? Atau sbg non muslim?) yg belum mau menerimanya.

    Kebebasan menulis/berpendapat tidak berdiri sendiri. Kebebasan berpendapat selalu disertai tanggung jawab dengan cara tidak mengada ada. Disitu bisa dilihat the quality of a blog. Tapi tujuan saya yang utama adalah mengajak untuk mengindari penyalahgunaan nama Allah dalam membenarkan suatu sikap hanya karena sekelompok manusia tidak mau berusaha menahan hawa nafsu.

    rkh :

    Saya setuju dg anda. Semua tulisan saya di blog ini insyaallah tidak mengada-ada dan dapat dipertanggung jawabkan dalam sebuah diskusi ilmiah. Saya sudah membuktikannya juga thd anda dalam penjelasan2x di komentar saya. Malah anda yg tidak dapat menunjukkan kalau pendapat anda itu layak diperhitungkan dg tidak memberikan argumentasi apapun untuk menguatkannya.

    Tujuan anda mungkin memang bagus, hanya salah alamat. 🙂 Saya sudah buktikan bahwa itu tidak relevan untuk anda tampilkan di sini, karena di sini memang tidak ada upaya penyalahgunaan nama Allah spt yg anda tuduhkan. Malah saya bisa buktikan kalau ternyata pendapat anda lah yg (anda sengaja ataupun tidak) telah menyerang Islam, Allah, dan nabi Muhammad. Dan anda malah mengatakan pendapat anda itu adalah untuk menghindari penyalahgunaan nama Allah?

    Dan kualitas suatu blog tidak diukur dari isi blog yg harus sesuai dg pendapat kita. Kalau anda tidak setuju dg isi blog saya dan menilainya jelek, mungkin anda tidak sendirian, tapi mungkin juga banyak orang yg lain yg tidak setuju dg anda. Setiap orang punya pemikiran sendiri. Dan saya tidak akan mempermasalahkan itu. 🙂

    Bahkan jelas2x saya katakan di halaman About me & this blog bahwa kalau anda tidak siap membaca tulisan saya, ya jangan membacanya, saya tidak butuh hit rank, saya hanya ingin informasi saya sampai pada orang lain sebanyak-banyaknya dan bisa berguna buat mereka. Itu saja.

    I rest my case. Good luck with your blog.

    rkh :

    Thx for y’ attention. Good luck with you too.. 🙂

  18. hasary
    Oktober 18, 2007 pukul 10:08 PM

    cuman mau sedikit komentar neh, maaf jika menyingung perasaan para ibu. kenapa poligami menjadi momok yang menakutkan bagi seorang wanita? karena di dalam mind atau pemikiran wanita telah tertanam sebuah doktrin yang menyatakan poligami itu akan sangat merugikan wanita. jadi bukan salah wanita kok kenapa mereka begitu takut akan poligami, yang salah itu media yang menyampai kan kepada mereka bahwa poligami itu merugikan, yang salah gosip yang beredar bahwa poligami itu merugikan.
    saya sempat baca tangapan bahwa lelaki secara genetik dan fiskologis akan cenderung akan berpoligami itu memang bener, dan itu kenyataan. mau bukti? seorang lelaki mampu melakukan berbagai hal dalam 1 waktu sedangkan wanita tidak mampu, makanya lelaki kurang teliti beda dengan wanita (soalnya fokus seh). ah banyak lagi sebenarnya argument yang menyatakan kenapa lelaki itu “boleh” berpoligami. cuman 1 alasan bagi wanita menolak poligami, yaitu karena masalah emosional (silakan percaya atau tidak, itu adalah kenyataan). terimakasih

    —————

    rkh :

    Halo mas hasary.. pendapat anda cukup baik. 🙂

    Apa yg anda sampaikan ada benarnya, propaganda tentang keburukan poligami telah diangkat sedemikian rupa untuk menyatakan bahwa poligami itu jelek dan merugikan, yg ujung2xnya ditujukan untuk mengatakan Islam itu jelek, karena poligami (yg diatur) dilegalkan dalam Islam. Ini banyak dilakukan oleh orang2x pembenci Islam. Tidak usah jauh2x, di Internet saja mudah sekali anda lihat di milis & forum debat kusir agama. Padahal kalau tidak diselewengkan, konsep poligami dalam Islam adalah bernilai kebaikan.

    Terima kasih.

  19. Oktober 21, 2007 pukul 11:48 PM

    Tentang gen dan kromosom yang mempengaruhi prilaku seks silakan baca temuan terbaru universitas Yale.

    http://www.detik.com/indexberita/indexfr.php

    ———–

    rkh :

    Terima kasih informasinya mas.. 🙂

  20. rinahapsari
    Oktober 31, 2007 pukul 5:59 AM

    Permisi ikutan kasih opini yach. Maaf sebelumnya ya mas Rkh bila saya yang berilmu rendah ini mau komentar. Menurut saya dengan dengan diperbolehkan poligami dalam Islam menunjukan keadilan Allah Swt dalam mengatur kehidupan makhlukNya. Walaupun saya pribadi tidak siap, belum bisa menerima dan memohon kepada Allah agar tidak mengalami berbagi cinta suami dengan perempuan lain, namun menganggap aturan poligami adalah Rahmatullah bagi kita umat manusia. Sebab, dalam pandangan dan pemikiran ringan saya saja, bagaimana mungkin saya lebih menerima perzinahan daripada pernikahan yang suci? (in case si pria tetap ngotot dengan another woman).

    rkh :

    Anda benar. Allah tidak akan berbuat tidak adil. Apa yg telah ditetapkan Allah pasti mengandung nilai kebaikan bagi manusia sendiri. Apa yg dibolehkan Allah pasti bernilai kebaikan yg lebih besar dari keburukannya. Demikian juga larangannya thd sesuatu pasti krn hal itu mengandung nilai keburukan yg lebih besar dari kebaikannya. Maka sudah semestinya kita bersikap lebih bijak. 🙂

    Saya mafhum bagaimana hancurnya perasaan seorang wanita bila suami ingin berbagi kasih. Bahkan mungkin saya pun akan memilih cerai karena khawatir hati ini tidak dapat mengendalikan hawa nafsu untuk membenci dan iri dengki kepada si madu (Naudzubillah..) Namun ini bukan berarti saya tidak setuju dengan poligami. Karena menurut saya dengan demikian, maka Allah memberikan pintu darurat bagi seorang pria (dalam hal tertentu) untuk terhindar dari perzinahan yang jelas-jelas haram. Tq.

    rkh :

    Ada pendapat yg cukup bijak spt ini :

    bagi seorang laki-laki: setuju poligami tidak identik dengan ingin berpoligami

    bagi seorang wanita: setuju poligami tidak identik dengan setuju dipoligami oleh suaminya.

    Sebagai seorang muslimah, tak ada alasan bagi wanita muslim manapun untuk menentang poligami. Menentang poligami sama saja dengan menentang ajaran agama anda sendiri.

    Kalau kita masih merasa berat untuk menerima konsep poligami, tindakan yang terbaik adalah bukan dengan menentangnya, melainkan dengan terus berusaha memperdalam ilmu agama kita, agar kita semakin menyadari akan kebenaran nilai2 ajaran islam, termasuk ajaran poligami.

    Sumber :
    http://blog.360.yahoo.com/blog-bgVAUNQ8bqpu0b1Qg1I9ZNo-?cq=1&p=241

    Terima kasih 🙂

  21. wisnu_hm
    Desember 25, 2007 pukul 2:03 PM

    Ass.wr.wb

    Ikutan kasih opini ya mas…
    Masalah poligami emank selalu menimbulkan pendapat yang pro dan kontra, tapi saya sependapat dengan mas rkh.

    Poligami bukanlaah suatu kewajiban, tapi suatu kebolehan yang terbatas dengan syarat2 yang sudah diatur. Sekali harus kita pahamkan bahwa poligami bukanlah suatu kebebasan yang semena2 boleh dilakukan oeh kaum pria, tetapi jika terpenuhi syaratnya tidaklah ada larangan baginya. Saya kira Islam sudah memberikan rambu-rambunya, dan kita yakin bahwa Allah menurunkan hukum pasti sudah sesuai dengan kebutuhan manusia.

    “Adakah seorang manusia yang sanggup membuat hukum yang lebih baik dari hukum Allah?”

    Kita paham akan perasaan wanita apabila dipoligami..dan sebagian besar pasti tidak setuju..Tetapi pernahkah terpikir bahwa jika Allah telah menetapkan hukum, pasti membawa kebaikan bagi manusia..Sekali lagi..pasti..

    Maaf saya lupa di Nama surah dan ayatnya, tetapi kurang lebih Allah telah berfirman yang artinya:

    “Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, tetapi itu buruk di sisi Allah, dan boleh jadi kamu membenci sesatu tetapi itu baik di sisi Allah. Allah maha mengetahui segala sesuatu sedangkan kamu tidak mengetahui suatu apapun”

    Sekali lagi hendaknya masalah poligami tidak disikapi dengan perasaan emosional, tapi juga secara logis, dan bijaksana

    rkh :

    Anda benar sekali mas wisnu.. pendapat anda sangat bijak..

    Terima kasih. 🙂

  22. iwukaini
    Februari 10, 2008 pukul 5:16 AM

    Menarik sekali artikelnya.
    Mudah-mudahan jadi wahana untuk saling berbagi dan menjadi ajang berlomba-lomba dalam keikhlasan.

    rkh :

    Halo mas/mbak Iwukaini… 🙂

    Terima kasih. Insyaallah dapat tercapai.. Amin.

  23. muqeem
    Oktober 8, 2009 pukul 3:42 AM

    Muslims Believe In JESUS
    (Peace be upon him)

    To know more please visit : http://islam100.wordpress.com

    We are presenting this not to placate you out of policy or diplomacy. We are only articulating what our Creator had commanded us in the Noble Qur’an (Which is translated as follows);

    “Say (O Muslim), “We believe in Allah and that which has been sent down to us and that which has been sent down to Abraham (Abraham), Isma’il (Ishmael), Ishaque (Isaac), Ya’qub (Jacob), and to Al-Asbat [the twelve sons of Ya’cub (Jacob)], and that which has been given to Musa (Moses) and ‘Iesa (Jesus), and that which has been given to the Prophets from their Lord. We make no distinction between any of them, and to Him we have submitted (in Islam)”. [Chapter 2: verse 136]

    As Muslims we have no choice. We had said in many words:

    ” WE BELIEVE IN ONE CREATOR, WE BELIEVE IN ALL HIS PROPHETS, WE BELIEVE, THAT JESUS (peace be upon him) WAS ONE OF THE MIGHTIEST PROPHETS OF GOD, THAT HE WAS THE MESSIAH AS WELL AS THE WORD OF GOD, THAT HE WAS BORN MIRACULOUSLY- WITHOUT ANY MALE INTERVENTION (which many modern-day Christians do not believe today) , THAT HE GAVE LIFE TO THE DEAD BY GOD’S PERMISSION, AND THAT HE HEALED THOSE BORN BLIND AND THE LEPERS BY GOD’S PERMISSION.”

    Islam respects all religions. Nevertheless, Muslims consider the view of Christendom to be a misguided one. The Noble Qur’an highlights the important aspects of Jesus (Peace Be Upon Him) mother, his birth, his mission and his ascension to heaven.
    VIRGIN MARY:
    Story of Jesus (Peace Be Upon Him) in the Noble Qur’an starts with the conception of his mother, Mary, when the wife of Imran, Mary’s mother, vowed to dedicate her child to the service of God in the temple. This is mentioned in the following verses (Which is translated as follows);

    “(Remember) when the wife of ‘Imran said: “O my Lord! I have vowed to You what (the child that) is in my womb to be dedicated for Your services (free from all worldly work; to serve Your place of worship), so accept this, from me. Verily, You are the All-Hearer, the All-Knowing” “Then when she delivered her child [Maryam (Mary)], she said: “O my Lord! I have delivered a female child,” — and Allah knew better what she delivered, — “And the male is not like the female, and I have named her Maryam (Mary), and I seek refuge with You (Allah) for her and for her offspring from Shaitan (Satan), the outcast.” “So her Lord (Allah) accepted her with goodly acceptance, He made her grow in a good manner and put her under the care of Zakariya (Zachariya). Every time he entered Al-Mihrab (a praying place or private room) to (visit) her, he found her supplied with sustenance. He said: “O Maryam (Mary)! from where have you got this?” She said “This is from Allah” Verily, Allah provides sustenance to whom He wills, without limit” [Chapter 3: verses 35-37]

  24. lone wolf
    Juli 2, 2011 pukul 10:45 PM

    Mas Mas – Mbak Mbak semua, mungkin tulisan ahmadhaes tentang poligini dapat menambah masukan betapa poligami adalah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan dan lebih bernilai kesejahteraan umat dari pada sekedar nafsu.

    http://ahmadhaes.wordpress.com/poligini/

    Salam,

    Lone Wolf

  25. yelly
    Januari 21, 2012 pukul 2:36 PM

    Assalamualaikum mas rkh,,

    sy suka dengan tulisan anda.. kyknya sy dh hatam isi blog anda deh..:), mski blm brani berkomentar bnyk krn ilmunya jg msh cetek,hehe.. dtunggu tulisan dan bahasan lainnya,,

    sedikit komentar mengenai poligami , bagi sy yg msh berstatus lajang, hhe.. wanita mana sih yg mau di “madu” kyknya sring kata2 itu dlontarkan oleh sbagian banyak wanita sbg ungkapan tak ingin suaminya berpoligami,, ya itu sah2 saja, sy setuju bhwa poligami adalah solusi paling akhir yg dberikan oleh islam atas masalah2 tertentu jd wajar jika wanita tidak setuju atas poligami yg tidak sesuai bhkan tidak memenuhi syarat2 yg begitu berat bagi para suami.. sy pribadi tidak ingin dipoligami slama sy msh bs mmberikan keturunan dan sehat lahir batin hingga dpt melayani suami..🙂

    salam,
    Yelly

  26. Februari 11, 2012 pukul 8:17 AM

    saya seorang wanita, juga seorang istri dan seorang ibu… tapi saya tidak anti poligami, juga tidak pernah takut kalau suami saya suatu saat akan berpoligami (asalkan syarat terpenuhi)
    saya menerima semua aturan aturan Tuhan karena saya adalah ciptaan-Nya, walau belum semuanya bisa saya jalani

    saya sendiri sering heran kenapa wanita takut sekali kalau suaminya berpoligami? apa yang membuat mereka takut, apa mereka takut kehilangan suami? apa mereka takut tidak ada tempat sandaran lagi?

    itu justru melecehkan wanita sendiri… menunjukkan kalau wanita itu tidak mandiri dan tergantung dengan pria

  1. Oktober 2, 2007 pukul 3:06 AM
  2. Februari 18, 2009 pukul 5:00 AM
  3. Oktober 14, 2010 pukul 3:54 AM
  4. Oktober 17, 2010 pukul 11:19 AM
  5. Oktober 10, 2011 pukul 1:48 PM
  6. Januari 5, 2012 pukul 11:09 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: